//
you're reading...
Buku Diary-ku

SAAT MAYRA HADIR

Sejak May masih dikandungan, Abi sama Umi selalu ngasih sugesti. Sambil ngusap-usap perut umi yang membuncit seperti balon, Umi berkata lirih, “De, nanti keluarnya pas Abi di rumah ya”. Dan begini “De, nanti keluarnya yang gampang ya,,”. Juga begini, “Dede jadi anak yang shalehah ya, patuh sama Abi & Umi, taat dan taqwa sama Allah Swt, dan Cinta sama Orangtua, Allah & Rasulullah.

Dan tulisan ini sengaja Abi dan Umi buat untuk mengisahkan awal perjalan May datang ke dunia ini. Suatu saat nanti Mayra akan baca tulisan ini yang akan menjadi bagian dari sejarah May.

Soto Ayam Ceker Mas Cahyo

Matahari mulai menggeliat seperti ingin mengabarkan sesuatu. Cahaya paginya lembut mengusap wajah Umi yang cantik merona. Hari ini adalah hari Jum’at, tanggal 18 Desember 2009. Tanggal merah Abi libur kerja, karena bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1431 H. Umi bilang ke Abi, ingin makan Soto Ceker Ayam. Abi jawab dengan semangat, Oke Mi, sekalian kita jalan-jalan.

Sebelum Umi mengandung May, Abi dan Umi pelanggan setia Soto Ceker Ayam Mas Cahyo yang terletak di Perumahan Mutiara Gading. Setiap hari Minggu atau Sabtu, Abi dan Umi pasti mampir ke warungnya. Tapi setelah Umi mengandung May, Umi dan Abi berhenti mampir, karena Umi ngerasa mual kalau nyium bau ayam. Jangankan ayam, bau nasi aja umi bisa langsung mual dan muntah. Padahal sebelumnya Umi penggemar berat ceker ayam lho May, tapi yang namanya bawaan hamil, semuanya bisa berubah.

Waktu menunjukkan pukul sekitar tujuh pagi. Abi dan Umi menuju Perumahan Mutiara Gading. Sebelum sampai di warung soto, seperti biasa umi jalan kaki sementara Abi mengiringinya dengan sepeda motor, supaya melahirkan nanti jadi mudah.

Tidak seperti biasa, Umi sering ngerasa mulas yang Umi anggap seperti ingin buang air besar. Umi masih menahan. Sampai di warung soto, Abi dan Umi sedikit kecewa tidak mendapat tempat duduk karena penuh pembeli. Terpaksa Abi dan Umi mengulur makannya dengan jalan-jalan terlebih dahulu. Dan benar, beberapa menit kemudian, setelah Abi dan Umi muter-muter Mutiara Gading lalu kembali lagi ke warung soto tadi, Abi dan Umi dapat tempat duduk. Ah lega, akhirnya Abi dan Umi bisa makan Soto Ayam Ceker Mas Cahyo juga.

Abi dan Umi menikmati hidangan Soto, terutama Abi, tidak tahu kenapa, Abi makan ceker ayam sangat lahap. Mulas Umi makin jadi, tapi Umi tetap bertahan sampai soto yang di mangkuk habis tak tersisa kecuali tulang. Abi dan Umi pun balik ke rumah, tapi selama berjalanan di atas sepeda motor, Umi ngerasa khawatir, karena mulas yang dirasakan terus menerus bahkan cenderung bertambah. Abi dan Umi pun mampir ke bidan langganan, yaitu “Bidan Umi”. Maksudnya bukan Uminya Mayra, tapi memang bidannya bernama Umi, lengkapnya Umi Rachmawati.

Umi langsung diperiksa sama bidan, tapi bukan “bidan Umi”. Kata bidan yang jaga, Umi sudah pembukaan tiga. Abi dan Umi disuruh pulang untuk ambil pakaian dan perlengkapan. Sesampai di rumah, Umi kasih tau Nenek. Kata Nenek, ya sudah, siap-siap ke bidan lagi. Umi ngepel rumah Nenek dulu, agar melahirkannya mudah seperti apa yang dianjurkan para orang tua. Nenek dan Mbah De heboh, tapi Abi dan Umi sih santai aja. Bahkan Abi sempet motongin kukunya Umi supaya saat lahiran nanti, cakaran Umi tidak terlalu sakit. Hah dicakar Bi? Iya May, nanti Abi di kruwek-kruwek dan digigit-gigit sama Umi.

“Maaf ya Abi, kita enggak jadi nonton”. Sesal Umi. “Nggak apa-apa Mi, kan kita akan kedatangan Sang Pemimpi kita”. Jawab Abi menghibur.

Sebetulnya May, malam sebelumnya Umi ngajakin nonton Film Sang Pemimpi sambil jalan-jalan di Bekasi Square. Sang Pemimpi adalah sekuel dari Film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel favorit Abi, yang ditulis oleh Andrea Hirata. Rencananya nonton jam 2 siang nanti, tapi ternyata pagi ini, may sudah nggak tahan mau keluar.

Jam 10, Abi, Umi, Nenek, mbah De, Om Pras, dan Wa Apin ke klinik Bidan Umi. Abi pesan kamar kelas VIP. Umi berbaring. Mulasnya Umi makin bertambah. Abi pegang tangan Umi, Umi menekan dengan kukunya ke tangan Abi kuat-kuat. Abi menahan sakit. Tapi Abi yakin, sakit yang dirasakan Umi 10 kali lipat dari Abi. Nenek mengelus-elus perut Umi yang menonjol. Sedangkan Mbah De, menenangkan Umi lewat kata-katanya seperti ini, “Tahan ya nak, semua perempuan mengalami ini semua, nggak apa-apa kok”. Sementara Umipun tetap tenang sambil mendengarkan murotal surat An-Nissa. Karena menurut artikel yang pernah Umi baca, mendengarkan musik klasik atau murotal bisa mempercepat pembukaan.

Om Pras dan Wa Apin sibuk dengan tingkahnya sendiri. Memainkan kamera digital untuk mengambil gambar.

Ruang Besalin

Sepertinya kontraksi Umi makin kencang. Nenek memanggil suster. Tak lama suster datang dan langsung memeriksa. “Sudah pembukaan enam” kata suster. “Ayo bawa ke Ruang bersalin. Alhamdulillah, cepat sekali pembukaannya.

Abi, Nenek, dan Mbah De, memapah Umi menuju ruang bersalin yang jarak dari kamar perawatan VIP ini sekitar 30 m. Baru saja Umi berbaring di tempat bersalin, Umi ingin pipis. Kata Nenek pipis di sini aja, nggak apa-apa. Tapi Umi tetap ngerasa risih pipis di ranjang hitam ini. Akhirnya dengan susah payah, Umi dengan dibantu Nenek dan Mbah De, menuju kamar kecil. Air seni tidak keluar, ya sudah ternyata memang bukan ingin pipis, tapi air ketuban yang mau pecah, itulah pendapat Nenek. Umi kembali ke ranjang lagi. Abi mulai panik, benar-benar panik, saat melihat darah keluar dari rembesan kain belakang pangkal paha Umi. Abi lari memanggil bidan yang masih terlihat santai dan wajar.

“Bu, bu, udah keluar darah bu, tolong cepetan”. Teriak Abi cemas.

Beberapa bidan bergegas masuk ruang bersalin. Empat bidan tersebut menempati posisinya sesuai tugas masing-masing. Abi disebelah kiri umi, Nenek dan Mbah De, ada di sebelah kanan. Abi terus membisiki Umi tentang anak kita nanti. Dorong dengan kekuatan pikiran agar bayinya perlahan-lahan keluar.

Bidan memberikan arahan sama Umi. Bu, bayinya sudah mau keluar. Tunggu, biar bayinya ngajakin ngejan ya. Satu bidan lagi memberikan suntikan ke paha Umi.

Kuku-kuku umi terus mencengkeram tangan Abi. Sementara Abi menahan sakit, Abi masih merasa bersyukur karena sempat kuku-kuku Umi dipotong tadi. Entah apa rasanya jika kuku-kuku Umi tidak dipotong.

“Boleh ngejan bu?”. Tanya Umi ke bidan. “Boleh bu, ayo ngejan”. Jawab salah satu bidan sambil memegang gunting. “Jangan bersuara ya, satu tarikan nafas saja”.

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee……………………………….!!!!!!!” Umi mengejan panjang lalu lepas terengah-engah. Abi terus memberi motivasi.

“Kepalanya udah kelihatan bu.” Kata bidan memberi tahu. Abi lihat memang di bawah perut Umi ada sesuatu berwarna hitam menyembul diantara sela-sela selangkangan Umi. “Iya Mi, kepalanya udah keluar sedikit.” Bisik Abi senang. “Ayo Mi, ngejan lagi”.

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee…”.

“Terus bu, satu tarikan nafas saja.”

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee…..”

Abi lihat kepala May semakin keliahatan, terus bergerak keluar, dan……………. Eaaaa Eaaaaaaa Eaaaaaaa. Akhirnya May menuju ke dunia. Tepat jam 11.30 Mayra lahir. Waah, Abi sungguh sangat senang. Umi tersenyum lega. Mbah De tak bisa sembunyikan kegembiraannya. Sementara Nenek sampai menangis terharu.

Karena sebelum persalinan, Abi minta ke bidan untuk bisa IMD (Inisiasi Menyusui Dini), May yang masih basah langsung diletakkan di atas dada Umi. Setelah IMD, Mayra dibersihkan lalu Abi mengadzani Mayra di kuping kanan dan iqamah di kuping kiri.

Abi bersyukur karena Mayra lahirnya sangat mudah dan pas Abi di rumah. Mungkin pengaruh sugesti sebelumnya yang selalu Abi dan Umi berikan. “Keluarnya yang gampang ya de”. “Keluarnya pas Abi di rumah aja ya”. Terlepas dari itu semua, Abi dan Umi bersyukur hanya kepada Allah SWT, karena semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Kata Umi, “Iya, ngeluarinnya sih nggak sakit, hanya dua kali ngejan langsung brojol, tapi dijahitnya itu lho, sakiiiiiiiiiiiiiiiiiit banget.” Kasihan Umi yah May, perjuangannya begitu besar. Makanya Mayra harus sayang sama Umi yah, kalau dibilangin jangan bandel.

Waktu Umi dijahit, tangan Abi digigit Umi, buat nahan rasa sakit. Nah, Abi juga ngerasain sakit meski cuma digigit. Mayra juga harus sayang sama Abi ya…

Data kelahiran Mayra yang tercatat disurat kelahiran Bidan Umi, lahir pukul 11.30 Wib. Berat 3.5 kg, sedangkan panjang 49 cm.

Itulah proses kelahiran Mayra ke dunia. Abi dan Umi merasa bahagiaaaaa sekali menyambut Mayra, juga Nenek, Mbah De, serta Kakek dan keluarga semua. Banyak saudara yang datang menjenguk memberi selamat.

Bekasi, 25 Desember 2009

Iklan

About seva

Aku tercipta Dari sesuatu yang nista Dalam rupa yang sempurna Mengemban satu makna Mengisi satu sisi yang tersisa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: