//
you're reading...
Saatnya Bebas Bicara

RITUAL TAK TERPELAJAR

Setiap tahun pasti ada, sejalan dengan datangnya tahun itu sendiri. Terjadi dan cenderung anarki. Bergerombol, arak-arakan, coret-coret baju dan coret apapun yang bisa, berteriak-teriak, dan segala macam ekspresi kebebasan yang kebablasan. Sebuah ritual yang tak terpelajar bagi para pelajar. Mereka lebih tepatnya seperti segerombolan penjahat yang telah terbebas dari jeruji tahanan. Terhempas dari masa-masa yang setiap detiknya begitu mencekam dan menakutkan. Sekolah baginya adalah penjara. Pelajaran baginya adalah agenda penyiksaan. Dan guru baginya adalah sipir berkumis tebal, berdada bidang, tinggi menjulang, dan bermata seperti hendak keluar. Bengis dan kejam.

Kini mereka lulus atau lebih tepatnya bebas. Mereka merasa berhak merayakannya sesuka hati meski merampas hak orang lain. Remaja usia belasan tahun ini tidak akan canggung melakukan kekerasan. Tidak segan-segan melukai siapa saja yang menghalanginya. Tidak lagi punya budaya malu dengan menenggak minuman keras di jalan-jalan. Merokok layaknya preman jalanan. Persis seperti penjahat berdarah dingin yang memamerkan kekejamannya.

Hampir di seluruh nusantara, para pelajar kita mempunyai ritual sama seperti itu. Dari sabang sampai merauke. Dari tanah abang sampai muara angke. Entah siapa yang memulai, yang pasti ini adalah ritual tahuan para pelajar sebuah bangsa, Bangsa Indonesia.

Ini adalah cerminan budaya pendidikan yang kurang baik. Pendidikan yang memandang nilai ujian tertulis yang tinggi adalah segala-galanya prestasi. Lalu pemerintah menaikkan standar kelulusan. Alih-alih mencerdaskan justru para pelajar menjadi semakin tertekan. Sekolah tidak ubahnya sebuah belenggu. Sekolah tak lain adalah tempat menakutkan yang mau tidak mau harus memasukinya.

Memang, tidak semua pelajar melakukan hal yang bodoh ini. Banyak pula yang berpendapat, aksi corat-coret adalah sia-sia dan tak terpelajar. Mereka -yang pelajar sesungguhnya- mengekspresikan kelulusan dengan melakukan sujud syukur kepada Allah SWT. Berterima kasih kepada siapa saja yang telah berjasa terutama kedua orang tua dan para guru. Mereka terus belajar untuk menyiapkan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Bagi mereka lulus SMU adalah awal meniti cita-cita hidupnya. Mau jadi apakah ia nantinya. Dokter, Guru, Insinyur, atau apapun tergantung kegigihan mereka sendiri.

Seharusnya pemerintah tidak memandang sebelah mata masalah ini. Menganggapnya sebagai ekspresi yang wajar. Budaya tak berguna ini seharusnya dihentikan. Jangan sampai terus berlangsung ke generasi selanjutnya. Negara dengan aparat kepolisiannya jika tegas, keras, dan serius menghapus ritual ini, maka saya yakin masalah ini akan cepat selesai. Tidak menjalar ke generasi selanjutnya.

Semoga kita semua menyadarinya.

Bekasi, 16 Juni 2008

Iklan

About seva

Aku tercipta Dari sesuatu yang nista Dalam rupa yang sempurna Mengemban satu makna Mengisi satu sisi yang tersisa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: