//
you're reading...
Saatnya Bebas Bicara

JUWITA IMPIAN KITA

 Juwita

Anda taukan gambar siapa ini..?
Ya, tepat sekali, dia adalah JUWITA.
Hah, nggak kenal?? Masa siiih..
Yaudah, gini, kalo Annisa Bahar pasti kenal dooong??
Nggak kenal juga?. Aah pura-pura.. katanya nge-Fans berat. Itu tuu yang punya hak paten goyang patah-patah. O.. itu.. . Sekarang sudah ngeh kan? Nah, Juwita anak kedua Annisa Bahar.

Nggak penting deh. Eit, tunggu dulu, ada yang menarik dari Juwita. Anak kelahiran tahun 1996 yang masih duduk di bangku SD ini tercatat menjadi Jutawan kecil. Ini lantaran tawaran manggung untuk menyambut tahun baru di Natuna, Riau, pada tanggal 31 Desember 2007 mendapatkan honor Rp. 75 Juta Rupiah. Saya spel ya.., Tujuh Puluh Lima Juta Rupiah. Kaget kah? he.. he.. he.. (berapa tahun ya saya bisa ngumpulin duit segitu..)

“Awalnya sih saya matok harga 100 juta, tapi dealnya segitu. Lumayan deh untuk ukuran Juwita.” Aku Manager Juwita merendah sambil cengengesan. (duit segede itu masih dibilang lumayan, emang manusia kagak ada sukur-sukurnya, *kesel)

Bisa dibilang Juwita adalah satu-satunya penyanyi dangdut cilik untuk saat ini. Cuma satu, tidak ada pesaingnya. Dia benar-benar lenggang kangkung di Lapangan kosong. Kalo penyanyi dewasa sih banyak. Apalagi penyanyi-penyanyi binal yang hanya mengandalkan goyangan, sudah tidak bisa dihitung. Sebut saja Trio Macam, Wong Telu, dan lain sebagainya (maaf saya agak alergi menyebut nama-nama tersebut, perut saya mual).

Kebanyakan dari kita masyarakat Indonesia, masih memandang musik dangdut adalah kelas rendah, ndeso, dan nggak gaul banget. Musik asli rakyat Indonesia itu masih dipandang sebelah mata. Tapi justru menjadi bursa peluang yang terbuka lebar bagi orang-orang yang mempunyai cengkok dangdut untuk menjadi seorang jutawan dadakan. Ya seperti Juwita itu.

Adalah Indosiar yang bisa menangkap peluang tersebut dengan jeli. Setelah acara Mamamia, Indosiar kembali melanjutkan acara tersebut dengan pola sedikit sama tapi temanya berbeda. Sebut saja Stardut yang dalam bahasa Indonesia maksudnya Bintang Dangdut (Dangdut diambil dari kata Dut). Singkatnya, program ini adalah ajang kompetisi anak-anak dalam unjuk gigi menyanyikan lagu-lagu dangdut. Orang tua masing-masing kompetitor diposisikan sebagai manager.

Memang peluang tersebut sangat mengundang air liur para orang tua yang mendapati anaknya mempunyai suara bagus dengan cengkok dangdut. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan anak-anaknya untuk ikut ajang tersebut.

Tidak munafik. Semua itu semata-mata atas nama uang, harta, ketenaran, dan dunia. Orang tua rela mengeksploitasi potensi anak demi sesuatu yang fana. Pendidikan yang merupakan aspek penting untuk masa depan pun diabaikan. Agama yang menjadi tutunan hidup pun dipinggirkan. Masa depan bagi mereka adalah kekayaan, ketenaran, dan kejayaan.

Kita para orang tua secara parsial membayangkan kehidupan seperti Juwita adalah suatu kesuksesan berbuah kebahagian yang perlu kita tiru dan kita perjuangkan mati-matian. Ya, Juwita adalah impian sebagaian para orang tua dalam memandang masa depan anak-anaknya.

Apakah kita termasuk orang tua yang tega menyeret anak-anak kita dalam kebahagiaan yang semu? (tanya bu guru aaah…)

Seva, Jak_261207

Iklan

About seva

Aku tercipta Dari sesuatu yang nista Dalam rupa yang sempurna Mengemban satu makna Mengisi satu sisi yang tersisa

Diskusi

2 respons untuk ‘JUWITA IMPIAN KITA

  1. mas, dunia itu memang berkilau yaaa
    menyilaukan, jadi harus pakai kaca mata rayben ngeliatnya biar bisa seksama menantapnya, tapi………………… au ah gelap, haa

    #seva
    menyilaukan bagi pecinta dunia. dunia sebatas sarana kita menggapai kebahagiaan akhirat. benar kata pepatah genggam dunia dengan tangan dan peluk akhirat dihati.

    btw, tengkyu sanget Pa, jadi nggak enak nih mampir terus

    Posted by hadi arr | Desember 26, 2007, 4:09 am
  2. untung saya tidak tumbuh di jaman ajang pencari bakat,jadi saya bisa menikmati masa kecil saya dengan kelereng,berlari dan mandi di kali hikss.. :mrgreen:

    mungkin orang tua jaman sekarang terobsesi ato cuman cemburu dengan sinetron2 ga mutu jadi ya menjadikan anak2 mereka sebagai modal untuk kepentingan mereka dan sedikit sekali untuk anak2nya.

    #seva
    wah, sama dong.. maen kelereng, petak umpet, hujan-hujanan, berenang di kali.. pokoknya banyak deh *sambil ngebayangin
    masa kecil yang menyenangkan yah he.. he..

    Posted by baliazura | Desember 26, 2007, 6:19 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: