//
you're reading...
Buku Diary-ku

Langit Kemenakanku

(Tulisan ini aku dedikasikan untuk Langit dan Kakak perempunku satu-satunya yang tercinta)

Saat-saat menegangkan tiba. Amal perbuatan manusia di dunia akan dihisab. Syurga telah disiapkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Neraka dengan api yang menyala-nyala telah siap melahap orang-orang yang durhaka.

Begitu luar biasa mencekamnya hari itu, hingga lupa tentang saudaranya. Tentang Ibu Bapaknya. Tentang sahabatnya. Tentang Anaknya. Semua manusia memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Kemungkinannya hanya dua. Syurga atau Neraka.

Seorang perempuan bergetar menanti keputusan. Ketakutan maha dahsyat menjalari persendian. Kedua kakinya lemah bergetar, dan jatuh tersungkur.

Seorang pemuda berparas bersih mengulurkan tangan. Senyumnya cerah, tenang dan sejuk. Perempuan itu mencoba berdiri dengan bantuan pemuda tersebut.

Lirih dan gemetar sang perempuan bertanya ,
“Kamu siapa… ?”
“Umi… saya langit.” Jawab pemuda tersebut santun.
“Oh, langit anakku…”
………………

Rabu, 28 Nov 2007

Tujuh Ribu Rupiah

Krisis Ekonomi. Seperti bangsa ini, keadaan ekonomiku pun krisis. Sangat Kritis. Uang yang tersisa di saku hanya sekitar tujuh ribu. Lembar-lembar ribu-an rupiah, tersebar di berbagai kantong celanaku. Kondisinya pun lecek-lecek tak terurus. Namanya juga sisa-sisa. Uang di Rekening tinggal Rp. 47.250,-. Sweeer!!. Benar-benar KRITIS. Padahal aku masih harus menyambung hidup di Jakarta paling tidak sampai hari Jum’at ke depan. Karena dipastikan hari Sabtu dan Minggu pulang ke Bekasi.

Dengan uang sebesar itu, aku tidak bisa bertahan di kos-kosan. Untuk sekali makan di Warteg saja minimal, ini udah dihitung minimal banget, lima ribu rupiah. Belum bensin motor yang udah hampir habis. Atas dasar itulah, jam 19.00 wib, setelah mengikuti Ujian Tengah Semester, aku langsung ngacir ke Bekasi. Pulang ke pangkuan Orang Tua. Memohon kucuran dana.

Sebenarnya aku khawatir, kalau terjadi apa-apa dengan motor kesayanganku di tengah jalan nanti. Pulang dengan membawa motor dan uang hanya tujuh ribu rupiah sungguh sangat beresiko. Misalnya Ban Meledak, atau bensin habis, atau menabrak lalu yang ditabrak minta ganti rugi. Tapi harus bagaimana lagi, keadaan genting seperti itu memaksa aku menjadi BONEK!.

Diperjalanan, aku terus ngecek isi bensin. Berhenti di tepi jalan, membuka jok, lalu membuka tutup tengki untuk memeriksa keadaan bensin. Masih cukup atau sudah habis. Aku harus lakukan hal manual seperti itu, karena speedometer motor ku, mati.

Alhamdulillah sampai di Bantar Gebang, tidak terjadi hal-hal yang menjadi bayangan buruk ku itu. Bensin tinggal sedikit, masih bisa menghantarkan aku sampai ke rumah. Tapi tetep aku isi lima ribu di Pom Bensin Bantar Gebang Pangkalan 2, biar tenang.

Emak Panik

Sampai dirumah jam 20.30 wib. Kakak perempuanku yang hamil tua, sedang periksa ke Bidan ditemani tukang masak-nya Emak, Mar namanya. Jam 21.00 Kakak pulang. Mar mengusap-usap air matanya berkali-kali. Kakak senyum-senyum pilu. Senyumnya berat, sangat dibuat-buat. Ada sesuatu yang beda. Sesuatu yang tidak diinginkan pasti telah terjadi. Itu tebakanku.

Benar saja. Kakak akhirnya mengungkapkan di depan Emak, Aku dan Nur -tukang masak satunya lagi-. Tukang masak Emak ada dua, yaitu Mar dan Nur.

“Kata bidan, ternyata bayinya sudah tidak ada detak jantung lagi”. Ucap kakak lirih, sambil tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang membentuk setengah lingkaran.

Emak dan Aku melongo. Terpaku dalam diam. Mencoba mencerna lagi ucapan kakak tadi. Pernyataan kakak barusan, berarti… cucu Emak atau Kemenakan saya sudah…

Wajah kakak mulai sendu. Bengkak dan memerah. Matanya berkaca-kaca. Mar, masih mengusap-usap matanya tanpa suara. Aku masih diam, mencoba untuk tenang. Tapi tidak dengan Emak, beliau panik. Mulutnya terus berceloteh. Kakinya berjalan mondar-madir.

“Telepon Bapak!, hari ini juga dia harus berangkat ke Jakarta”. Perintah Emak jatuh ke saya.
“Hasan sudah tau?”. Tanya Emak ke Kakak tentang suaminya.
“Ri, Cepat anter ke Rumah Sakit sekarang!”. Perintah pertama belum selesai sudah jatuh Perintah Emak ke dua.

Begitulah kalau sedang panik. Bikin kesel. Tapi, ya begitulah Emak saya..

Jam 9 malam, Mas Hasan pulang dari tempat kerjanya di Serang. Rehat sejenak, Kakak dan Mas Hasan langsung ke Rumah Sakit. Aku dan Emak menyusul kemudian.

Bayi yang ada dalam kandungan kakak sudah tidak bernyawa. Aku terus memperingatkan Kakak maupun Emak. Masalah yang harus dipikirkan sekarang bukan kenapa bisa begitu -bayinya meninggal- ,tapi bagaimana cara mengeluarkan bayi yang sudah tidak bernyawa. Akan sangat berbeda mengeluarkan bayi yang hidup dengan bayi yang sudah tidak bergerak.

Di RS Marry Cileungsi

Aku dan Emak sampai di Rumah Sakit Marry Cileungsi. Kakak sedang diperiksa. Alat infuse segera dipasang. Kakak masuk ke Kamar 2105, lantai dua, kavling persalinan. Wajah Emak terus menegang. Kakak mencoba pasrah. Aku dan Mas Hasan memamerkan teater diam.

Jam sebelas malam, Kakak mulai merintih-rintih. Mules. Emak semakin tegang. Mulutnya terus melafazkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mas Hasan memegang tangan Kakak erat-erat, mencoba menguatkan perjuangannya.

Entah apa yang akan terjadi, jika kondisi seperti ini. Bagaimana nantinya. Perjuangan kakak sudah tidak ada harapan. Perjuangan kakak tidak akan berujung pada senyuman, tapi kesedihan.

Aku sangat kasihan sama Kakak. Beliau harus berjuang mengeluarkan anaknya yang tidak akan menangis saat terlahir. Tidak akan ada senyum yang menghiasi saat-saat kelahiran buah hatinya. Semuanya pasti akan tertunduk melihat bayi yang beku.

Hatiku menangis, sangat melodis dan melankolis. Sesekali airmataku merembes di pelupuk mata. Leherku sakit menahan gejolak emosi. Semua itu aku tahan dengan ekspresi datar di depan kakak.

Jam 00.00 wib
Aku panggil suster untuk memeriksa kakak yang semakin mengaduh. Setelah beberapa saat diperiksa, kakak langsung dibawa ke ruang bersalin. Aku, Emak, dan Mas Hasan menunggu di ambang pintu kamar 2105.

“Tenang ya Bu, kalau ibu panik nanti kami juga ikut panik.” Pesan suster sambil membawa kakak ke ruang bersalin.

Emosiku membuncah. Airmataku tumpah. Menangis sesenggukan. Mas Hasan mengelus-elus pundak menenangkanku. Emak semakin terpaku, bisu. Mungkin dalam hatinya terus berdo’a. Itulah sang ibu. Tak pernah jengah dan lupa untuk kebaikan sang anak. Duh Ibu, betapa sayangku padamu. Ya Rabb, sayangilah Ibuku, Ibuku, Ibuku, dan Bapakku.

Jam 00.30 wib
Suster kembali menemui Emak dan Mas Hasan, mengabarkan bahwa Bayi yang ada di kandungan sudah berhasil keluar, ibunya sehat. Alhamdulillah… Kami bernafas sangat-sangat lega. Kemudian suster mengajak kami melihat si bayi. Kecil, mungil, sedang terlelap tidur. Tidur untuk selamanya. Melihat ujud anaknya, Mas Hasan sontak membantingkan diri di tembok, meraung.

Faktor Bayi Meninggal dalam Kandungan

Aku tanya ke suster,
“Sus, kalau bayi meninggal seperti ini biasanya kenapa sih?”
Dengan cekatan, suster bertubuh gempal itu menjelaskan,

“Ada beberapa faktor mas,

1. Bayi dalam kandungan sampai usia 7 bulan (Usia 8-9 bulan sudah menetapkan posisinya di rahim siap untuk keluar), sangat aktif berputar naik turun. Akan sangat beresiko jika perputarannya sangat cepat dan searah, karena bisa menyebabkan Plasenta/tali puser terpelintir atau melilit, sehingga Oksigen dan asupan makanan akan terhambat. Kondisi seperti ini akan menyebabkan Bayi Meninggal.

Tipsnya:
: Pantau aktifitas bayi setiap saat. Jika terjadi kontraksi yang hebat seperti bayi berontak, bisa diartikan bahwa sang bayi tidak mendapatkan oksigen & makanan yang cukup.
: Kurangi aktifitas ibu tapi tidak seratus persen istirahat. Banyaknya aktifitas, asupan gizi bisa jadi cukup untuk ibu saja, bayi tidak kebagian.
: Segera periksa, Jika tidak ada gerakan, setelah gerakan yang hebat, atau gerakan semakin pelan dan melemah, bisa diartikan itu saat sekarat sang bayi. Sang ibu dituntut untuk peka terhadap perkembangan janin.

2. Pecahnya air ketuban, sehingga meracuni bayi.”

“Sus, kalau bayi yang meninggal nggak dikeluarin, akibatnya apa?”. Tanya saya lagi, persis anak TK yang bawel nanya ke Ibu gurunya.
“Sangat berbahaya mas, Bayi yang sudah diketahui meninggal harus segera dikeluarkan, karena kelamaan akan membusuk dan menginfeksi tubuh sang ibu.”

Cara Melahirkan Bayi yang Sudah Meninggal

“Sus, biasanya dengan kasus seperti ini, bagaimana cara melahirkannya”
“Sebenarnya sama seperti melahirkan bayi yang masih hidup”. Suster melanjutkan, “Caranya yaitu ;

1. Dengan cara normal, lewat lubang vagina sang ibu. Kondisi Ibu tadi -kakak-, memang sudah siap melahirkan. Seperti lubang rahim terbuka dan tidak keras, begitu juga lubang vaginanya sudah melentur. Ditambah posisi kepala bayi sudah keluar. Jadi, proses kelahiran tadi sangat mudah.

2. Ada juga kasus lain seperti lubang rahim keras. Jika demikian, biasanya diberi rangsangan dengan cairan “Sintho”. Cairan tersebut dimasukkan melalui cairan infuse atau lewat lubang Vagina. Fungsinya untuk melunakkan lubang rahim tersebut. Tapi rangsangan tersebut akan menyakitkan sang ibu. Sang ibu akan dibuat mual yang luar biasa.
3. Atau dengan jalan Operasi, jika proses rangsang tersebut sudah tidak berpengaruh. Tapi sangat beresiko, jadi operasi harus menjadi alternative terakhir jika posisi bayi melintang, sehingga susah dikeluarkan dengan cara normal.
begitu mas…”

Aku hanya mengangguk-angguk kaya orang lagi triping. Sedih bercampur bahagia mengaduk jiwa. Sedih, karena calon keponakan kedua ku meninggal. Bahagia karena proses melahirkannya sangat mudah dan lancar. Kakak pun keadaanya sangat baik.

Muhammad Putra Langit

“Ma, bayi ini mau dikasih nama apa?”. Tanya saya. Meskipun sudah meninggal, dia tetap mempunyai hak untuk diberi nama. Meski tidak bernyawa, dia tetap kemenakanku yang selalu aku ingat. Untuk mengingatnya kan harus diberi nama, ya kan?

“Kamu dong yang nyari namanya”. Jawab Emak.

Aku merenung sejenak sambil corat-coret di buku kerjaku.

“Ma, aku kasih nama Muhammad Putra Langit”. Teriak aku bersemangat.
“Ya wis ora papa”.

Saya punya argument tersendiri, kenapa dinamai Putra Langit. Anak tersebut benar-benar suci. Belum sempat melakukan dosa. Saya yakin, anak ini langsung diangkat Allah Swt, ke langit.

Beberapa saat kemudian, Aku, Emak, dan Mas Hasan diperbolehkan masuk melihat kakak. Kakak tersenyum pilu. Aku berusaha menghiburnya,

“Mba, bayi itu adalah anak pertama mba. Bersyukurlah, anak mba sudah diangkat Allah ke langit menjadi penghuni syurga. Dia tersenyum melihat ibunya dalam keadaan sehat. Karenanya aku berinama “Muhammad Putra Langit”.

Anak mba benar-benar anak yang shaleh, dan berbakti sama orang tua. Aku melihat anak mba tertidur dengan tenang. Buktinya, dia tidak menyusahkan mba saat melahirkannya dan saat-saat pertama kehamilan, mba tidak mengalami proses ngidam.

Anak mba adalah harta bagi mba dan mas Hasan yang bersih. Di sana, di langit sana dia senantiasa mendo’akan kebaikan ibu dan bapaknya. Makanya, jangan kecewakan dia. Setelah ini, mba dan mas Hasan harus semakin mendekatkan diri sama Allah, supaya nanti ketemu dengan anak mba di Syurga.

Kakak tersenyum. Emak dan Mas Hasan ikut tersenyum. Kami semua bersyukur dalam kedukaan. Alhamdulillah, ya Allah semua ini pasti mengandung hikmah berlimpah untuk kami dan untuk semua.

Seva Jak_120507

Iklan

About seva

Aku tercipta Dari sesuatu yang nista Dalam rupa yang sempurna Mengemban satu makna Mengisi satu sisi yang tersisa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: