Aku masih tak percaya pada tulisan yang terpahat di atas pintu depan rumahku. Pernik warna-warni menghiasi dinding dan jendela kayu. Baru saja aku melihat anak kecil itu menangis tersedu-sedu merengek meminta sesuatu yang janggal buat ibunya. Ia ingin mencoba menjadi dewasa. Di mata ibunya dia hanyalah anak kemarin sore atau kadang lebih ekstrim lagi, sang ibu menyebutnya bayi abang1). Katanya belum cukup umur. Sama sekali belum pantas untuk membangun gubuk sebenarnya di tengah terik matahari siang bolong.
“Untuk kamu dua atau tiga tahun lagi”. Tanggap Emak dingin saat kusodorkan lembar-lembar keinginanku.
Sontak aku jawab, “Tidak bisa!. Harus secepatnya mumpung hari belum beranjak siang. Sebelum matahari tenggelam. Sebelum malam menebar tirai kelam.
“Lalu bagaimana dengan kuliah dan pekerjaanmu?. Emak takut berserakan akhirnya”.
Secepatnya ku tepis logika yang lama membelenggu beliau dan kebanyakan dari mereka-mereka penikmat dunia. Cinta remaja yang terlewat sekat dianggap biasa. Mereka dibutakan oleh modernisasi budaya. Yang suci justru mampu memicingkan mata mereka. Aneh.
Kuhancurkan pelan-pelan ketakutan yang berasal dari pandangan dunia semata. Keraguan yang dihembuskan oleh si nyata-nyata menjadi musuh manusia sejak pertama tercipta. Karena takut celah yang terbuka lebar guna menebar rayuannya akan tertutup. Mereka -para musuh- akan menangis kalah, jika akhirnya kuraih kesucian dan kemuliaan ini. Akhiratlah tujuan hidupku. Itulah tekadku.
Aku yakinkan mereka seyakin mentari menyinari ranah. Seyakin pada Allah Yang Maha Pemurah. Kekuatanku pasti bertambah. Jalan hidupku akan semakin terarah. Kedewasaanku akan terus terasah. Demi masa depan yang cerah. Demi makna hidup yang penuh berkah.
Lalu mereka pasrah. Bunga jiwakupun merekah.
Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas kemudahan-kemudahan ini
Aku masih tak percaya pada hiruk pikuk ukiran baju yang aku kenakan. Jahitannya meliuk-liuk semrawut namun terlihat keharmonisan dan keindahannya. Juga tapih batik licin yang melingkar dari perut sampai ke ujung kakiku. Dan sepatu sandal hitam yang mengkilat dan mencolok mata. Aku berjalan gagah seperti raja-raja jawa yang penuh wibawa. Diiringi patih dan para punggawa. Sedangkan anak kecil itu masih memakai kaos oblong lagi dekil pemberian saudaranya yang sudah tak terpakai. Diselangkangan celana pendek berwarna merah yang ia kenakan terdapat bekas sobekan yang sudah ditambal beberapa jahitan. Telapak kakinya tebal dan telanjang menapak bumi.
Aku masih tak percaya pada mata-mata yang terpampang dekat di depan. Semuanya bersinar cerah menyoroti wajahku. Aku seperti seorang penyanyi yang sedang beraksi di panggung pagelaran musik. Aku terus berguman membatin. Seharusnya anak kecil itu berada di dalam rumah. Duduk tercenung mendengarkan percakapan Ibunya, Bapaknya, Kakeknya, Neneknya, juga kakak-kakaknya. Polos melongo dengan setumpuk pertanyaan di kepalanya. Tak urung membuat semuanya jadi kesal.
Aku masih tak percaya pada lelaki setengah baya di depanku. Berpakaian rapih, berpeci, dan berdasi. Menghadap ke meja yang terdapat beberapa tumpuk lembar kertas atau buku. Bapakku, Kakak-kakakku, Paman dan Uwakku serta beberapa orang lagi yang masih asing bagiku melingkari meja tersebut. Dia juga sepertinya melihat anak kecil yang bermain kelereng. Senyum simpulnya menampar mukaku.
Aku masih tak percaya pada baris-baris kata yang merangkai beberapa kalimat di lembaran-lembaran kertas itu. Aku harus membacanya dengan lantang di antara muka-muka telanjang menghadang ku.
Keringat dingin mengucur deras saat aku lafalkan ikrar sakral “Saya terima…” Degup jantungku makin kencang berlari saat ku urai nama perempuan yang tertunduk didepanku. Hingga akhirnya sekat pemisah antara aku dan perempuan itu hancur lebur hilang dibungkus seuntai kalimat. Kupersembahkan jiwa ragaku dalam seutas ikatan suci. Aku lega aku bahagia.
Sementara kemarin anak kecil itu masih terbata-bata melafalkan beberapa huruf lalu dirangkaikan menjadi sebuah kata. Dari kata-kata itu kemudian dirangkai lagi menjadi satu kalimat. Terkadang ibunya atau ibu gurunya membantu mengeja dan terus menyemangatinya. Tepuk tangan dan teriakkan bangga acapkali muncul apabila anak itu berhasil menyelesaikan satu baris kalimat. Dan anak kecil itu pun kemudian mengikutinya bertepuk tangan dan sorak sorai riang.
Aku masih tak percaya pada kursi yang tengah aku duduki. Kilatan-kilatan cahaya menerpa wajahku. Alunan suara menambah kemeriahannya. Uluran tangan sesekali dan kadang-kadang beruntun menyalamiku. Memaksa aku harus berdiri lalu duduk, berdiri lagi dan duduk lagi. Seperti pompa angin yang sedang mengisi ban sepeda mini kesayanganku sewaktu di kampung dulu. Masih jelas dalam ingatanku tentang anak kecil itu. Kemarin anak itu masih bergumal dengan tanah dan debu. Berguling-guling bercumbu dengan bumi tanpa sehelai alas. Dan ketika pulang ke rumah, Ibunya marah-marah karena bajunya yang kotor.
Aku makin tak percaya pada perempuan berparas jelita di sampingku. Memakai baju indah gemerlap dengan serentetan ukiran. Baju dengan warna coklat pekat. Di pinggiran-pinggirannya meliuk-liuk arah jahitan berwarna kuning keemasan. Perempuan itu layaknya permaisuri raja yang cantik penuh pesona. Karena pesona itulah Sang Raja bersikeras untuk menyuntingnya tak perduli berasal dari kalangan mana. Sesekali pandangan sejuknya mengguyur seluruh tubuhku. Senyum simpulnya membawa aku ke hamparan pantai kedamaian lengkap dengan nyanyian ombak dan burung-burung yang beradu namun terpadu. Pandangan kami bertemu. Ia tertunduk dengan selang waktu tak menentu. Ia masih malu. Begitu juga dengan diriku.
“Mimpikah aku?”
Aku terus bertanya pada diri sendiri
Apakah aku adalah aku yang sesungguhnya, yang sebelumnya sebongkah mimpi?
Apakah ini kelanjutan dari mimpi-mimpi yang selama ini aku rajut?
Tapi aku yakin ini nyata. Senyum gadis belia itu nyata. Senyum manusia-manusia itu juga nyata. Doa-doa mereka itu jelas terdengar ditelinga.
Mimpiku jelas-jelas nyata. Atau dengan kata lain mimpiku kini jadi kenyataan.
Aku riang bersyukur
Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas limpahan karunia-Mu yang tak terkira ini. Segala puji hanya bagi-Mu ya Rabbi…
Aku melihat anak kecil itu lagi dari celah-celah kerudung hijau muda yang menutupi mahkota hitam milik perempuan di sampingku. Dia sedang bermain kelereng tak terlalu jauh dari tempat aku meletakkan bokongku. Bersama teman-teman laki-laki dan perempuan seusianya syarat dengan jiwa kekanak-kanakkannya.
Aku masih tak percaya. Perempuan di sampingku telah melebur dalam nafasku. Menyatu dengan aliran detak nadiku. Dan masuk jauh ke dalam relung hatiku. Dan aku sekarang telah bernafas dengan dua jiwa. Melangkah dengan empat kaki. Memandang dengan empat mata. Merasa dengan dua hati. Mengusap airmata dengan empat tangan. Dan tersenyum dengan dua mulut.
Sedangkan kemarin anak itu terlihat masih ngempeng2) di tete ibunya. Tangannya yang mungil menyelinap dibalik lekukan baju ibunya bagian dada. Setiap malam saat hendak tidur dia memeluk erat sambil memejamkan mata mencoba mengarungi samudera mimpi. Terkadang harus beradu tangan, berebut dengan ayahnya. Dan ia akan menangis ketika tahu Ibunya tak di sampingnya.
Aku terus mencoba untuk percaya. Kelak anak kecil itu pasti akan segera tumbuh dewasa seiring waktu yang berjalan cepat pun terkadang sangat lambat. Dan mengerti akan arti hidup dengan lautan hakikat. Membawa setumpuk beban dan harapan.
Kuhirup nafas dalam-dalam. Menenggelamkan pikiranku jauh ke lubuk jiwa yang sesungguhnya. Lalu kubuka mata lebar-lebar. Tentu dengan mataku sendiri. bukan mata anak kecil itu.
Aku bernafas lega. Sekarang anak kecil itu telah tiada. Entah mati atau hilang ditelan bumi. Raib seperti kelopak yang telah menjadi bunga. Sepeti biji yang telah menjadi pohon rindang. Batangnya perkasa menjulang ke angkasa. Ranting-rantingnya berbaris rapih. Daun-daunnya lebat memayungi sebagian kecil bumi. Lambat laun pohon itu mulai berbuah. Di dalam buah itu terdapat biji-bijian persis seperti biji sedia kala. Pada akhirnya pohon itu layu dan mati diganti dengan biji yang baru tadi.
Aku bernafas lega. Sekarang sudah saatnya aku harus percaya. Anak kecil kemarin sore memang sudah tiada. Hanya kenangan yang sempat ia pahat di lemari kayu jati yang terletak di ruang tengah rumahnya. Kadang aku harus meniup debu yang melekat di atas pahatan tak terawat itu. Agar sesekali aku dapat membacanya saat ingin mengenang anak kecil itu. Atau sekedar menceritakan pada anak-anakku nanti. Mungkin suatu saat anak kecil itu akan kembali dalam bentuk dan rupa yang tak terlalu berbeda. Dan itu adalah anakku.
1) Bayi abang = Bayi yang baru lahir dan warna kulitnya merah
2) Ngempeng = Anak kecil yang sudah tidak minum asi, tapi suka memegangi tete ibunya. Biasanya yang melakukan kebiasaan ini adalah anak laki-laki bungsu.
Mas_Jak270207
DIarsipkan di bawah: Cerpen & Novel





