Secarik Kenangan Usang Bersama Nenekku Sayang (1)

2007 November 10
by seva
(Tulisan ini aku persembahkan untuk temanku Ami. Thank’s Inspirasinya)

Kota Jakarta dimata Kampungku

Temanku -Ami- telah membangunkan aku tentang romatisme masa lalu. Secarik kenangan itu seperti bunga layu yang segar kembali dan mekar setelah disirami air dan diberi pupuk ketulusan. Keinginan untuk membangun kembali bayangan yang semakin samar tergilas roda-roda waktu begitu kuat. Kenangan saat-saat bersama Nenek ku tercinta. Aku dan keluarga-besarku memanggil beliau Mbok. Beliau nenek dari jalur ibu. Beliau adalah satu-satunya Nenek yang aku punyai. Karena Ayahku ditinggal orangtuanya semenjak kecil. Sedangkan Kakek dari Ibuku sudah meninggal ketika Kakak pertama berumur sekitar 4 tahun, yang pastinya aku belum lahir. Jangankan lahir, direncanakan saja mungkin belum sampai.

Meski Nenek lebih menyayangi kakak pertama, tapi bagiku Mbok-ku lah teman hidupku saat itu. Aku menyayangi beliau. Sungguh. Ya Allah, lapangkanlah kuburan Mbok. Ampunilah dosa-dosanya. Sayangilah dia. Tempatkan beliau di tempat hamba-hamba yang Engkau kasihi.

Sewaktu SD, aku ditinggal oleh Orang Tuaku merantau ke Jakarta. Aku tidak sedih, justru malah senang, bangga dan bahagia. Image yang sudah tertanam di kampungku, bahwa orang yang bisa pergi ke Jakarta, adalah orang yang hebat. Dan ketika pulang, pasti membawa banyak uang. Lalu orang tersebut membawa kebiasaan baru, bercerita tentang serba-serbi kehidupan Jakarta yang ramai dan menyenangkan itu.

Mereka yang pernah ke Jakarta dengan gagah dan sombongnya mendongeng kepada anak-anak kecil seperti saya begini, “Di Jakarta itu sangat ramai. Banyak gedung-gedung tinggi menjulang menantang langit, jalan-jalan yang luas dihiasi lampu-lampu hias yang indah. Orangnya cantik-cantik, gagah-gagah, berpakaian rapih dan bersih. Uang recehan berserakan dimana-mana, tidak berguna sama sekali. Kita bisa mengambilnya dan mengumpulkannya sesuka kita sampai berkarung-karung”.

Aku terbius oleh celotehnya. Dalam hati aku berucap, “Oh Jakarta… sebegitu indah kah engkau… suatu saat nanti, saat aku dewasa kelak, aku akan datang menjumpaimu, bercumbu dengan warna-warnimu. Oh.. Jakarta.. tunggulah aku”.

Orang tuaku pergi ke Jakarta. Itu berarti, sewaktu pulang nanti akan membawa banyak uang. Dan aku akan dibelikan mainan yang bermacam-macam rupa seperti teman-teman lainnya. Lalu aku bisa bercerita tentang Orang tuaku yang baru pulang dari Kota itu. Lalu setiap harinya akan diberi uang jajan saat hendak pergi ke sekolah.

Angan-angan seperti itu adalah wajar bagiku. Karena aku tergolong keluarga yang kurang dari mampu kalau tidak mau dibilang miskin. Tapi kekurangan dan keprihatinan itu mengajarkan aku untuk tetap Sabar, Tabah, Tegar dan Tawakal. Aku tidak pernah mengeluh, meski setiap berangkat Sekolah Dasar aku tidak pernah diberi uang saku. Sehingga ketika teman-teman menikmati jajannya, aku hanya bisa diam mengulum jemari. Atau kalau tidak, aku berlari menuju rumah yang terpaut 300m dari sekolah hanya untuk menemukan sesuap nasi apabila sudah tersaji, kalaupun belum aku hanya menenggak air putih sekedar menentramkan lambung yang dangdutan. Atau sebagai ladang pelarian agar tidak malu dilihat teman karena tidak bisa jajan. Saat bel berbunyi, aku berlari kembali menuju Sekolah.

GrandMother is My Mother

Kakak laki-laki ku yang pertama, semenjak SMP sudah di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Dan melanjutkan SMA-nya di tempat itu juga. Jadi, sangat jarang berada di Rumah. Kakakku yang kedua perempuan ikut Pamanku di Jakarta, diasuh dan disekolahkan disana. Kakakku yang ketiga laki-laki tetap dikampung. Jadi otomatis, dirumah hanya ada tiga penghuni, Mbok, kakak ketiga, dan saya sendiri.

Kedekatanku dengan Mbok semakin intens. Mbok, bagiku seperti Ibuku sendiri. Bahkan lebih dekat lagi barangkali. Mbok yang sudah sepuh terbiasa menggoreng Nasi sisa semalam tanpa minyak, dengan bumbu hanya garam dan cabe rawit secukupnya. Itulah sarapanku, Nasi goreng ala Mbok-ku. Nikmat abis. Terkadang makan berdua beralaskan daun pisang dengan lauk ikan pindang dan ikan asin. Ikan asin itu hanya dibenamkan di abu yang masih membara sisa-sisa api menanak nasi. Baru diambil ketika sudah terlihat sebagian menghitam karena gosong.

Setiap tengah malam Mbok melakukan aktifitas rutin. Meronda mencari nyamuk-nyamuk pengganggu tidur. Diterangi sedikit cahaya lampu gamblok atau ceplik yang muram menatap malam. Setiap nyamuk yang terlihat ditembok akan bernasib tragis karena tanpa permintaan terakhir lagi, langsung digeplek (ditepuk) oleh tangan Mbok. Kalau aku terbangun, aku akan mengikuti jejaknya dibelakang atau disamping untuk menggepleki nyamuk-nyamuk sialan itu. Jika melihat nyamuk dengan perut gendut dan berwana merah penuh darah, nafsu untuk menganiaya semakin bertambah. Tak puas dengan geplekan, tubuh nyamuk tersebut aku gilas-gilas sampai hancur. Betapa kejamnya diriku. Itulah kenangan yang masih bisa saya rasakan sampai saat ini.

Kakak ketigaku jarang ngandang dirumah, maklum dia itu agak bandel. Berperangai sangar dan sering berantem. Tapi dibalik semua tabiat kerasnya, Allah Swt ternyata mempunyai skenario yang jauh diluar dugaan manusia. Beberapa tahun kemudian dia mendaftarkan diri menjadi Abdi Negara. Masuk dalam jajaran kesatuan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kakakku begitu menyayangiku, dia tidak pernah memarahiku apalagi bermain kasar padaku. Posisi bontot (anak terakhir) sangat menguntungkan, karena semua kasih sayang kakak-kakak saya tertuju dan tercurahkan pada saya. Sampai saat ini pun masih seperti itu meski aku sudah besar.

Jadi Santri Di Pesantren

(Bersambung…. )

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.