Secarik Kenangan Usang Bersama Nenekku Sayang (2)
Jadi Santri di Pesantren
Tidak lama, setelah lulus SD, aku ke Pesantren Babakan Lebaksiu Tegal. Perasaan sedih dan bahagia mengaduk-aduk kalbu. Sedih meninggalkan Mbok yang sendiri, dan senang bisa menimba ilmu di pesantren. Wajah yang terlihat terakhir saat aku berangkat meninggalkan beliau pertama kali adalah kerutan ketabahan, kesabaran, kebijaksanaan, dan dukungan yang dalam meski tanpa sepatah katapun yang terlantun dari bibirnya yang sudah berlipat-lipat dimakan usia.
Setiap tiga bulan sekali, atau kadang satu bulan aku pulang. Menyapa kampung halaman, menyapa angin kumbang yang menyisir malam, menemui Mbok yang semakin renta dan sakit-sakitan, serta menemui teman-teman sepermainan.
Waktu terus berjalan. Merambat pelan namun pasti. Meninggalkan semua kenangan yang semakin tua. Sudah satu tahun lebih aku menjadi santri. Sekarang aku kelas 2 MTsN atau setara dengan SLTP. Sekarang pula aku berada di Kompleks EF di pondok pesantren tersebut. EF sendiri adalah gabungan antara komplek E dan Komplek F. Sebelumnya aku menempati kos-kosan (yang mengajarkan aku menjadi santri badung), lalu pindah ke EF. Kompleks EF terletak agak jauh dari pusat Pesantren sekitar 200 meter ke Barat. Santri-santri penghuni kompleks tersebut berimbang, yang badung 50%, yang alim 50% juga. Setiap sore tidak ketinggalan bermain bola di depan halaman, meski hujan. Justru air hujan yang membasahi badan mampu memberi tambahan daya semangat kami dalam menggocek sikulit bundar.
Adalah suatu kebahagian bagi semua santri, ketika dijenguk oleh keluarganya. Karena itu berarti uang bulanan akan terisi kembali. Hutang-hutang di warung akan segera dilunasi. Dan keceriaan akan segera menghiasi santri. Begitu juga dengan diriku. Hatiku berbunga-bunga ketika kakak pertama yang sebenarnya santri juga di Cirebon, datang menjengukku. Kebahagianku semakin membuncah ketika kakak mengajakku pulang. Katanya dirumah sedang ramai.
“Apa, ramai ? memang ada acara apa?” tanyaku dalam hati yang tak sempat aku utarakan karena sudah terlanjur dipenuhi perasaan bahagia.
Kalau hendak pulang, sebagai santri aku harus minta surat ijin sama ketua santri atau yang disebut A’dho kompleks tersebut. Satu kompleks/pondok ada beberapa A’dho. Bisa tiga sampai lima. Syarat menjadi A’dho harus sudah senior, sudah bisa membaca kitab gundul, bahkan sampai menjadi Ustad. Setelah mendapatkan surat ijin, saya harus ke Kyai Romo atau Pengasuh Pondok Pesantren tersebut, untuk meminta tanda tangan. Rumah beliau sangat sejuk meski tanpa AC. Dengan tembok warna hijau muda membuat suasana ruang tamu semakin tenang dan damai.
Senyum Kebohongan
Sore itu ba’da Ashar kami pulang ke Rumah bersama kebohongan yang tersimpan rapih dibalik senyum manis kakak saya. Sekitar jam 19.30 kami sampai. Dirumah Mbok suasananya begitu ramai tidak seperti biasanya. Bapak, Ema, Uwak, Paman, Bibi, yang biasanya di Jakarta, kini kumpul bersama di Rumah Mbok yang biasanya sunyi. Saudara dan para tetangga pun ada di sana.
“Ada acara apaan sih, kok ramai banget?” tanyaku lagi-lagi dalam hati tanpa kecurigaan sedikitpun.
Saya masuk ke dalam rumah bagian belakang sedikit canggung. Maklum, biasanya seorang santri ketika baru pulang ke kampung berubah menjadi orang yang pemalu. Apalagi kini dihadapkan oleh banyaknya manusia. Tapi karena itu rumah saya/Mbok saya, kenapa harus malu. Aku mencium tangan Bapak dan Ema penuh hormat, menyalami semua orang yang ada di sana. Sorot-sorot mata tipuan bergantian dan terkadang bersamaan menatapku. Senyum-senyum kebohongan terus tersungging di wajah-wajah mereka. Namun bodohnya aku, saat itu aku masih belum menyadari juga akan tipuan dan kebohongan itu.
Agak lama saya mengistirahatkan raga. Kusapu pandanganku di ruangan ini. “Aneh. Dimana Mbok ?. Kok, nggak ada. Ah, mungkin di kamar barangkali“. Tanyaku dalam hati menepis segala kemungkian buruk yang hendak merasuk.
“Mbok dimana Ma ?” Penasaran bertambah-tambah, kuajukan pertanyaan ke Emak saya.
“Ada.. dikamar tuh, lagi tidur”. Jawab Emak tersenyum tenang dan senang telah menang mengelabuhi anaknya.
Aku diantar Emak ke depan. Di ruang depan dan di depan orang-orang pula, Ema bilang sama Uwa (kakak perempuan Emak), “Wa, Huri nyari Mbok mau salaman”.
“Nyari Mbok… tuh di kamar lagi tidur” Jawab Uwak, lagi-lagi dengan senyum seperti Ema tadi. Senyum kemenangan atas tipuannya.
Aku mulai curiga dengan senyum mereka. Mulai dari kakak sewaktu mengantar pulang, Ema, Uwa, dan yang lainnya. Senyum yang dipaksa oleh tekanan kebohongan. Senyum-senyum mereka mulai jelas tergambar diotakku. Senyum, senyum, dan terus tersenyum. Satu lalu dua lalu tiga lalu terus bertambah-tambah menjadi ribuan senyuman yang menyesaki benak. Kumpulan itu kemudian memproyeksikan diri menjadi sebuah tawaan. seperti sekumpulan manusia yang sedang menertawai pecundang yang kalah perang karena kebodohannya. Ya, mereka semua menertawaiku.
Pasti ada sesuatu dengan Mbok. Itulah benang merah yang bisa aku ambil. Aku tidak masuk ke kamar Mbok, untuk mencarinya. Tapi aku langsung menuju ke Rumah ku sendiri yang letaknya berdampingan sebelah barat. Di sana ada Bapakku, dan kakak-kakakku. Aku akan bertanya pada mereka tentang Mbok dan tentang semua keganjilan dan kegilaan ini.
Aku Menangis Karena MARAH!
Rupanya Bapak sudah tahu maksudku. Baru saja membuka pintu lalu menemui Bapak dan belum sempat mengemukakan pertanyaan, Bapak langsung berkata,
“Ri, kamu harus sabar ya” Kata Bapak dengan suara parau namun penuh kesan ketabahan. Itulah Bapakku. Diam tidak banyak ngomong. Sabar, tabah, dan kata-katanya bijaksana. Aku sendiri sudah menangkap bahasa kesedihan dari suaranya. Kusiapkan diri baik-baik untuk menerima berita itu. Agar ketika berita itu masuk melalui gendang telinga, lalu terus melaju menuju otak dan sebagian ke hati, aku tidak akan kaget dan shock. Lama aku mempersiapkan diri. Menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya sebagian dan sebagiannya lagi aku tahan sebagai persiapan kalau-kalau aku tidak bisa bernafas lagi karena kaget. Sekarang aku siap.
Kakak-kakakku masih berdiri mengelilingiku yang duduk tertunduk dihadapan Bapak. Mungkin sudah tak sabar menunggu reaksiku ketika Bapak menyampaikan berita duka ini.
Suasana sunyi. Semua diam, seolah menunggu kejadian yang akan berlangsung nanti. Cicak-cicak yang sedari tadi berkejaran pun berhenti seakan momen itu begitu penting sehingga rugi untuk dilewatkan. Hewan malam tercekat tak berani bersuara. Nyamuk-nyamuk menahan nafasnya menelan darah yang terasa berat. Benar-benar kesenyapan yang hampir sempurna. Hanya jarum jam yang terus berdetak nyaring dan berputar menghitung detik demi detik waktu menuju kehancuran dunia fana ini.
“Ri..” Bapak memulai dengan hati-hati tapi penuh arti, “Mbok sudah meninggal”
Pyar! Pikiranku buyar. Gambaran otakku seketika putih lalu berubah hitam. Hampa. Aku berada di ruang gelap tak berbatas. Tak percaya. Degup jantung berpacu kencang seakan tak sanggup menanggung warta ini. Berat aku menarik nafas. Untungnya aku masih punya sebagian udara yang tertahan tadi. Aku terdiam membeku. Kaku seperti patung.
“Adapun keramaian itu adalah nelung dina Mbok (Tahlilan Tiga hari kematian Mbok)”. Kata Bapak melanjutkan kalimat yang terpenggal.
Emosi datarku, seketika bergejolak. Seperti lautan yang damai, dengan ombak yang berdebur menyanyikan suara alam bersama burung-burung, tiba-tiba datang badai dengan segala kekuatannya menjelma menjadi gelombang Tsunami memporak-porandakan alam sekitarnya. Langit mataku yang cerah seketika menebal dan ambyur ke pipi. Aku meraung, menangis sekeras-kerasnya.
Aku benar-benar marah. Kenapa baru sekarang aku diberi tahu. Kenapa setelah tiga hari aku dijemput untuk pulang?. Kenapa tidak ketika saat kematiannya, supaya aku bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Kenapa? Kenapa? Kenapa?.
Apa aku tidak punya hak untuk melihat wajah mbok-ku?. Apakah waktu terakhir, Mbok tidak memanggil namaku. Adakah yang membaca warna wajahnya yang pucat yang merindukan kehadiranku sebelum beliau menyatu dengan bumi???. Beliau pasti mengharapkan aku pulang dan merasakan pelukan ku yang terakhir kali.
Semua pertanyaan itu tak sanggup aku utarakan, karena begitu besar amarah yang telah menguasai pikiran dan setiap aliran nadiku. Saat itu aku hanya bisa melolong, menjerit, lalu akhirnya merintih letih.
Bapak diam, kakak-kakakku pun diam, seakan membiarkan aku melampiaskan kesedihannya. Padahal mereka salah. Aku menangis bukan karena sedih. Tapi marah. Sekali lagi, aku menangis karena MARAH!.
Emak Pingsan Di Brebes
Beberapa hari kemudian, baru aku dapatkan jawaban yang dapat menenangkanku.
Bermula ketika Mbok kepengin makan Es kriling / Es gosrok (jajanan murah ala kampung kami). Sebenarnya pantangan baginya dimasa penyembuhan beliau. Sejak beberapa puluh kilogram air yang menguasai perut dan kaki beliau disedot keluar. Yang tadinya perutnya besar seperti mengandung dan kakinya melembung, sekarang sudah kempis.
Ternyata malam itu malaikat Izrail telah menyatroni rumah Mbok. Ditengah malam yang sunyi, hanya terdengar suara-suara makhluk malam khas kampung kami, tragedi itu dimuali. Mbok mual. Perutnya dikocok-kocok keras. Terus dipaksa berak-berak. Kedua kakakku (kebetulan kakak perempuan yang tadinya diasuh paman, sudah pulang dan melanjutkan SMAnya di Brebes) panik. Tak tahu harus berbuat apa. Keadaan Mbok semakin parah. Uwak (Anak pertama Mbok) yang rumahnya agak jauh segera datang setelah diberitahu kakakku yang laki-laki. Mbok serta merta dibawa ke RSUD Brebes (Klapet).
Shubuh. Ya, shubuh itu Mbok dipanggil Allah. Semua panik, karena proses kematian Mbok begitu cepat. Karena kepanikan tersebut, dan banyaknya orang-orang yang harus dihubungi kabar tersebut, sampai aku yang masih kecil, tidak berguna dan tidak penting pun menjadi satu yang abaikan. Uwak menjatuhkan perintah ke Kakak-ku yang ketiga untuk berangkat ke Jakarta pagi itu juga mewartakan kepergian Mbok. Padahal kakak-ku itu masih dalam keadaan shock, bisa dilihat dari raut wajahnya yang polos dan hampa. Mungkin juga karena keadaan yang serba ngantuk langsung dikabari sesuatu yang mengagetkan itu.
Anak-anak Mbok (Uwak, Bu de, Paman, dan Bu Le) yang ada di Jakarta pun segera pulang saat itu juga, saat kabar itu sampai ditelinga dan dicerna otak mereka. Semua pulang menggunakan cara dan jalur masing-masing. Bagi yang mempunyai mobil, mereka akan menggunakan mobil. Jika tidak, maka menggunakan kereta atau Bus Antar kota antar propinsi. Karena Bapak waktu itu belum punya mobil (tapi sekarang sih belum punya juga) terpaksa menggunakan Bus.
Semua mendapatkan warta tanpa halangan, tapi tidak dengan ibuku. Ibuku mempunyai hati yang lemah dan mudah menangis. Tanpa proses yang berbelit-belit mereka telah berkonspirasi untuk mengelabuhi Emak. Persis seperti konspirasi mereka terhadapku. Niat mereka baik, hanya ketakutan kalau-kalau ketika Emak menerima berita ini, jadi Shock. Alih-alih bisa pulang cepat malah dibikin repot oleh kondisi Ibuku yang barangkali Pingsan. Emak disuruh pulang, karena ada acara sesuatu di kampung. Mbok ingin semuanya pulang. Itulah jawaban mereka yang sudah disiapkan kalau-kalau Emak-ku bertanya. Padahal waktu itu Emak masih dalam tahap belajar bertahan hidup di Jakarta.
Setelah sampai di kota Brebes. Bersama ayah, kakak pertama, dan kakak sepupuku, ibu menuruni Bus menapaki kota Brebes. Tandanya jarak ke Kampung sudah dekat. Bapak berfikir sudah saatnya Emak tahu. Brebes mungkin tempat yang tepat untuk menyampaikan warta kepada Ibuku yang sesungguhnya.
“Mamah”. Sapa Bapak-ku mesra (maaf ditambahi -penulisa- agar terkesan mesra)
Ibu menoleh sedikit kearah kerut wajah tegas Bapak sambil berjalan menuju Angkot yang sudah menunggu.
“Ada apa Pah..” Jawab Emak-ku lembut.
Bapak, Kakak, dan kakak sepupuku saling berpandangan, bersepakat untuk menyiapkan diri kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Ibuku.
“Mbok Meninggal” ucap Bapak pelan namun jelas masuk seluruhnya ke telinga Emak.
“HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!”
Tas kecil digenggaman tangan, jatuh. Wajahnya pias. Pucat pasi kehilangan darah. Tubuhnya gemetar. Lemas tak bertenaga. Lalu ambruk. Emak pingsan tepat di trotoar Kota Brebes.
Seva, Jak/081107





