Mendaki Gunung GEDE

Senin, 27 Mei 2007

Rencana naik gunung ternyata tidak main-main buat abangku. Memang awalnya aku yang ngajak lewat telepon ketika dia masih berlayar beberapa bulan yang lalu, itu juga hanya sekedar ajakan yang tidak serius. Saat ini dia pulang ke rumah karena mendapatkan cuti selama setengah bulan dari pekerjaannya di kapal PUSRI. Peraturan di perusaannya (dan menjadi peraturan umum UU ketenaga kerjaan)  setiap pekerja selama satu tahun bekerja mendapatkan jatah cuti selama 12 hari. Nah, kesempatan ini dia pergunakan untuk melakukan perjalanan yang sudah kami sepakati, yaitu naik gunung. Saya perhatikan, dia sungguh bersemangat, maklum dia anak Mapala Tapak Giri ketika masih kuliah di UNISMA Bekasi.  

Kalau saya jujur, sebenarnya aku masih malas dan tidak menganggap serius naik ke gunung. Aku masih santai, belum mempersiapkan apa-apa baik perlengkapan maupun mental. Apa boleh buat, abangku memang serius, buktinya dia sudah packing perlengkapan, dan siang ini dia ngajak aku untuk membeli perlengkapan camping. Besok, kami akan segera berangkat. 

Selasa, 28 Mei 2007 

Keberangkatan ke Gede

Aku mulai packing perlengkapan. Baju, celana, sarung, jaket, pakaian dalam dan kaos kaki. Sedikit makanan yang bisa mengganjal perut seperti kue lapis dan biscuit serta mie instant. Tidak lupa sahabat dan kekasihku yang selalu membagikan ilmunya yaitu satu buah buku serta mushaf.  

Kurang lebih pukul 11.00 wib, kami berpamitan pada Ema. Bilangnya mau main ke temen (terpaksa kami berbohong, takut tidak diijinkan). Ema hanya diam, dalam hati mungkin beliau sudah tahu, bahwa aku mau ke gunung. Dari depan rumah (kebetulan rumah saya tepat di depan jalan raya), kami naik angkot biru no. 92 (jurusan Bantargebang-Cileungsi) menuju Cileungsi. Dari Cileungsi kami langsung naik Bus Kosub ke Bogor. Sebenarnya dari depan rumah, kami bisa aja langsung naik Bus ini, tapi kami nggak mau lama-lama nunggunya. Jadi kami harus naik angkot yang memang frekwensinya selalu berseliweran. 

Di dalam bus ini aku dan abangku duduk di bangku paling belakang. Beberapa lama kemudian aku baru sadar bahwa tepat di sampingku duduk seorang ibu-ibu tua dengan baju kumuh dan menyemburat bau yang tidak sedap. Di samping ibu tua itu terdapat seorang lelaki buta berpakaian kumuh dan tongkat di tangan. Sepertinya kedua orang ini adalah sepasang suami istri peminta-minta. Aku merasa tidak nyaman berada di samping mereka, maka aku agak bergeser agar tidak terlalu dekat meski penuh dengan penumpang. Aku terus mengumpat diri sendiri, kenapa aku harus memilih tempat duduk ini, padahal bangku masih kosong. Tapi aku terus bertahan meski tak nyaman.  

Setelah mereka turun, aku baru sadar dan menyesal. Aku bukanlah pengikut Nabi yang baik, karena Nabi adalah orang yang paling dekat dengan kaum miskin dan kaum yang lemah seperti orang tadi meski Nabi manusia termulia di sisi Allah Swt. Nabi pula berpesan pada umatnya untuk selalu dekat dengan orang miskin dan orang lemah serta anak yatim. Betapa sombongnya diriku. Ampuni aku ya Robbi.    

Sekitar pukul 01.00 wib, kami sampai di Terminal Barang Siang-Bogor. Kami langsung menuju ke Masjid Agung untuk shalat Dzuhur dan istirahat sebentar.  Untuk menuju ke puncak Gede-Pangrango, ada tiga jalur pendakian. Jalur Cibodas, Jalur Cipanas (Gunung Puteri), dan Jalur Salabintana di Sukabumi. Abangku memilih jalur Cibodas, karena sebelumnya dia sudah pernah naik dari sana enam tahun yang lalu. Saya bertanya pada seorang penjaga penitipan sandal-sepatu di Masjid itu arah menuju Cibodas dan harus naik apa. Dia menjawab dengan logat sedikit medok (begitu yang saya tangkap melalui insting pendengaran saya), bahwa saya harus ke Ciawi dulu naik angkot Ciawi, dari Ciawi naik angkot lagi jurusan Cisarua, kemudian ditengah perjalanan di sebuah pertigaan saya harus turun lalu naik angkot lagi ke Cibodas. 

Sementara keterangan itu kami pegang. Kami pun keluar Masjid menuju jalan raya. Di sana saya tanya lagi ke seorang jasa pencari penumpang. Dari orang itu saya dapatkan keterangan bahwa untuk menuju ke Cibodas, aku harus naik minibus berwarna putih– sambil menunjuk mobil tersebut yang sedang ngetem mencari penumpang– jurusan Bogor-Cianjur dan turun di pertigaan Cibodas. Keterangan ini lebih ringkas dari yang pertama, sehingga saya memilih keterangan ke dua ini. Kami pun menuju Minibus yang ditunjuk orang tadi. Minibus tersebut seperti angkutan tidak resmi, tapi tak apalah yang penting aku sampai di sana.

Meski kami sudah naik, kami harus bersabar karena menunggu penumpang lagi minimal sepuluh orang. Waktu kami naik, baru ada dua orang di dalam mobil ini. Lumayan lama harus menunggu 5 atau 6 orang lagi. Baru setelah ada sepuluh atau sebelas orang penumpang, sopir itu sudah mulai menjalankannya. 

Satu jam lebih, mobil ini sudah melaju meraung-raung. Tak terasa sudah memasuki Kabupaten Cianjur. Tandanya Cibodas sudah dekat. Ciloto, Cimacan, baru kemudian Cibodas. Kami turun di pertigaan Cibodas ini. Ciri-cirinya ada sebuah papan besi besar yang membelah jalan raya ini dari atas. Papan ini bertuliskan sesuatu untuk menginformasikan bahwa di sini tempat menuju ke Wisata Cibodas. 

Taman Wisata Cibodas

Dari pertigaan ini, kami masih harus naik angkot lagi menuju ke Wisata Cibodas. Tidak terlalu lama akhirnya sekitar pukul 04.00 wib, kami sampai di Taman Wisata Cibodas, yang sekaligus tempat memulai jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango.  Kami mancari rumah makan dulu sebelum naik, maklum belum makan siang.

Selesai makan, kami langsung menuju ke jalur pendakian. Kami melewati Pos Penjagaan, lalu berhenti untuk melapor. Sangat disayangkan, kami tidak diizinkan naik karena prosedur yang berlaku, harus membeli tiket tiga hari sebelum pendakian. Kami sedih karena gagal. Meski kami terus mendesak dengan alasan kami dari jauh, tetap saja tidak boleh. Tapi kami tidak patah semangat, di sini tidak boleh, mungkin di Cipanas bisa. Andai tidak bisa juga, apa boleh buat, kami terpaksa nylonong alias tidak izin.

Saat itu juga kami menuju Cipanas. Sampai di Cipanas sekitar pukul 05.30 wib. Hari sudah mulai gelap dan kabut mulai menyelimuti daerah ini. Aku dan abangku berjalan menyusuri pematang sawah. Jalan setapak ini adalah jalur pendakian Gede-Pangrango. Kami dikejutkan adanya sebuah pos penjagaan GPO (Gede-Pangrango Operation). Terkejut karena kami tidak punya surat ijin pendakian, kalau sampai tidak boleh juga, pupus sudah harapan untuk mendaki. Mau tidak mau kami harus melapor, karena di pos tersebut terdapat banyak orang volunteer yang melihat kami.

Abang saya minta izin untuk naik. Mereka bertanya mengenai surat ijinnya. Kami gelagapan, dengan suara pelan dan senyum nyinyir, abang saya menjawab bahwa kami tidak punya surat izin tersebut. Kami pun tidak diijinkan mendaki dengan alasan prosedur dan juga mengenai keselamatan kami, tapi masih bisa diatur dengan baik. Kami dipersilahkan dengan ramah untuk istirahat dulu, sekedar duduk dan ngobrol. Semuanya ramah, kami pun merasa seperti bukan orang asing di pos GPO ini.  

Kami ngobrol-ngobrol bersama para volunteer lumayan lama di sana. Kami diberi tahu semua peraturan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Kami pun memuaskan diri untuk bertanya segala sesuatu tentang Gede-Pangrango ini, kami pun terpuaskan. Saya mencoba terus membujuknya agar bisa mendaki saat ini juga. Mereka menyarankan untuk minta izin sama Komandan di sini, yang kebetulan orang Cipanas dan rumahnya dekat dari Pos Jaga ini. Kami pun sepakat untuk ke sana di antar salah seorang penjaga Anto namanya. 

Sampai di depan rumah komandan, pintu gerbang terkunci. Diduga telah tidur. Kami gelisah. Semakin gusar karena hujan turun cukup deras. Kami dan Anto menunggu di samping rumah sambil berteduh. Muncul seorang perempuan yang ternyata istri komandan. Dia mengatakan, bahwa komandan sedang di rumah mertuanya. Rumah mertuanya tidak jauh hanya terpaut beberapa rumah di samping kanan rumahnya sendiri.  

Kami pun bertemu dengan Komandannya. Pada dasarnya Komandan yang bernama Pak Nur itu tidak mengizinkan dengan dalih sesuai prosedur dan juga demi keselamatan sebagai tanggung jawab beliau. Selain dari itu juga sebenarnya Pak Nur tidak punya wewenang tentang perizinan, beliau hanya bertanggung jawab kepada para pendaki yang sudah mengantongi surat izin dari kantor informasi yang berada di Taman Cibodas. Kami pun mengerti maksud dari Pak Nur tersebut. 

Meskipun demikian, abang saya masih terus mencoba membujuk beliau agar bisa mendaki. Kami ditanya berasal dari mana dan minta diperlihatkan KTP kami. Kami menjawab berasal dari Brebes asli, tapi tinggal di Jakarta. Mendengar kami berasal dari Brebes, Pak Nur agak tersenyum. “Bener dari Brebes?” tanya beliau meyakinkan. “Bener Pa” jawab saya juga abang saya. “Brebesnya di mana?” telusur beliau lagi. “Desa Kalimati” jawab kami lagi mantap. 

Kami sedikit kaget mendengar bahwa ternyata beliau juga dari Brebes, dan sekolah di sana di SMA 1 Brebes. Kami semakin akrab dengan beliau dan terus berbincang-bincang sesekali bercanda dan tertawa tentunya menggunakan bahasa medoknya. Anto yang tidak tahu apa yang sedang kami bicarakan hanya bengong kaya kambing kelaparan. Akhirnya beliau memutuskan memperbolehkan kami mendaki dengan menyerahkan sepenuhnya sama Anto. Anto mengangguk menerima perintah komandannya. Anto menyarankan harus ada salah satu volunteer yang mendampingi karena takut terjadi apa-apa. Kalau mau dia yang akan mencarikan orang yang bersedia mendampingi kami.

Kami sepakat untuk didampingi oleh seorang penunjuk jalan dengan imbalan sebesar Rp. 150.000,-. Sebelumnya abang saya agak keberatan, bukan hanya karena nominal uangnya, tapi juga mungkin tantangannya berkurang, maklum dia mantan Mapala. Tapi saya kekeh menyewa penunjuk jalan tersebut, mengingat keselamatan, dan formalisasinya (karena kami “pendaki illegal”). Juga nggak enak sama para penjaganya, karena mereka sudah baik dan ramah menyambut kami. Masa kami menolak dan mendesak menerobos masuk ke kawasan yang menjadi tanggung jawab mereka. Sungguh keterlaluan kalau demikian. 

Mulai Pendakian

Setelah shalat isya, sekitar jam 09.00 wib tepatnya hujan mulai reda, kami star pendakian di temani mang Dayat penunjuk jalan kami. Kami dipinjami tenda, karena kami tidak membawanya (yang sebenarnya kami tidak punya tenda). Saya berjalan dengan bersemangat di depan disusul abang saya dan mang Dayat di baris paling belakang. Saya lega dan mungkin abang saya juga demikian, akhirnya bisa mendaki juga meski tanpa surat izin. 

Mula-mula jalanan masih mendatar membelah lahan pertanian. Kami terus melangkahkan diterangi cahaya bulan yang sudah muncul setelah hujan reda dibantu dengan sorot cahaya senter yang kami bawa. Alhamdulillah cuaca sepertinya mendukung kami. Langit seakan lega dengan beban awan berat yang sudah ia turunkan ke bumi menjadi butiran air hujan. Dan sekarang langit cerah dihiasi rembulan yang menggantung seperti bola pijar. 

Langkahku mulai berat ketika jalanan mulai menanjak ke atas. Jantungku berpacu kencang. Nafas tersengal. Tubuh mulai panas dan meregang. Rasa pening mulai menjalar ke kepala. Saya minta berhenti dan mengatur nafas, padahal baru sekitar 100m jarak tempuh perjalanan. Setelah merasa lega dan jantung mulai terkontrol, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun setelah 100m ke atas, keadaanku kembali seperti 100m di bawah. Saya pun minta istirahat lagi. Demikian seterusnya, kami lebih banyak beristirahat. Namun abang saya tidak demikian, apalagi mang Dayat. Di wajah mang Dayat tidak tampak gambaran kelelahan, nafasnya pun sepertinya teratur, tidak tersengal seperti saya. Mungkin karena dia sudah terbiasa. 

Meskipun demikian, saya tidak mengeluh dan menyesal, apalagi berniat untuk turun kembali. Saya harus tetap mendaki, meski harus banyak beristirahat. Alhamdulillah, sekitar jam 02.30 wib, kami akhirnya sampai di alun-alun Suryakencana. Alun-alun tersebut berupa sebuah dataran yang menghampar sangat luas dengan ketinggian 2750 m dpl dan merupakan padang Edelweiss atau orang desa sekitar menyebutnya bunga Lokat Mala 

Kami mendirikan sebuah tenda di alun-alun ini dekat sumber air. Di sini sudah ada beberapa tenda para pendaki yang sudah didirikan. Abang saya membuat api unggun sekedar menghangatkan badan. Kaki dan tangan saya sedikit mengkerut kedinginan dan terasa nyeri saat menerobos kabut di tengah-tengah alun-alun ini tadi. Mang Dayat segera membaringkan tubuhnya dan terlelap di balik sleeping bag-nya.

Hawa dingin teramat sangat saya rasakan menusuk tubuh karena tidur hanya beralaskan sarung. Jaket tipis dan kecil dilapisi jas hujan yang aku gunakan pun tidak sedikitpun memberikan kehangatan. Aku ada ide. Isi tas saya keluarkan, kemudian tas aku gepengkan lalu kuletakkan tepat di bawah badan saya. Lumayan, dinginnya bumi tidak terlalu menusuk jantungku. Tubuhku bergetar kedinginan. Namun demikian rasa lelah telah menelapkan ragaku, meski sering terbangun. Keadaan abangku lebih parah, setidaknya itu yang saya lihat. Dia hanya tidur beralas sajadah dan jaket tipis yang melekat di tubuhnya. Tubuhnya bergetar kencang menggigil. Aku merasa kasihan, tapi bagaimana lagi wong keadaanku pun sama. Menggigil. 

Pagi pun tiba. Meski matahari masih bersembunyi dibalik punggung gunung yang mengelilingi alun-alun ini. Dengan cekatan, abangku mengambil air dan memasak mie instant dan menyeduhkan kopi. Mang Dayat masih tidur pulas sepertinya dia merasa nyaman dan hangat di balutan sleeping bag-nya. Kami pun tidak membangunkannya. Sampai mie instant dan kopinya sudah siap dia mulai membuka kelopak matanya. Kami segera menyantap dan meminum kopinya. 

Matahari semakin menampakkan diri dan mulai berbagi cahayanya dengan kami di sini. Tak henti-hentinya aku terus menikmati pemandangan yang terhampar luas. Memandang padang edelweiss sejauh mata memandang. Menghirup udara yang segar dalam-dalam lalu mengeluarkannya bersama racun nikotin yang sudah bersarang di paru-paruku sejak SMP dulu. Suara-suara dari balik tenda yang sudah ada sebelum kami juga mulai ramai bahkan terdengar seperti berantem, padahal mungkin sedang bercanda. 

Dirasa cukup, kami berkemas-kemas diri membongkar tenda dan memasukkan barang-barang kami ke tas masing-masing. Sekitar jam 07.00 wib, kami mulai mendaki kembali menuju puncak gunung Gede. Sebenarnya ada dua puncak di gunung ini yaitu puncak Gede (2958 m dpl) dan puncak Pangrango (3019 m dpl). Tujuan kami kali ini ke Puncak Gede. Badan terasa bugar setelah beristirahat cukup. Kami pun mendaki dengan perasaan senang meski jalan yang kami lalui semakin terjal dari sebelumnya. 

Sekitar satu setengah jam, atau kira-kira jam 08.30 wib (saya menggunakan kata sekitar atau kira-kira karena setiap moment yang ada tidak aku catat dalam tulisan, tetapi hanya dicatat dalam ingatan saja), kami akhirnya sampai di puncak Gede. Subhanallah begitu indah alam raya ciptaan Allah swt ini. Aku senang dan bangga akhirnya sampai juga ke puncak.

Puncak Gede hanya sebuah dataran kecil yang memanjang. Di depannya terdapat jurang yang sebenarnya kawah Ratu dengan dipagari besi di sekelilingnya.  Di sana terdapat sebuah nisan yang bertuliskan sebuah nama. Menurut mang Dayat, orang ini adalah pendaki yang meninggal dunia di sini. Dia lahir tahun 1982 artinya seumuran dengan saya. Dia mendaki seorang diri tanpa perlengkapan yang memadai, akhirnya mati kedinginan. Di puncak ini juga terdapat sebuah alat pemancar, yang bisa terlihat dari alun-alun Suryakencana. 

Sekitar setengah jam kami di puncak, beristirahat sambil menikmati pemandangan dan mengambil gambar untuk kenang-kenangan.         

Mulai Turun

Sekitar pukul 09.00 wib, kami turun. Perjalanan menurun menyebabkan tumit saya terasa sakit. Berbeda ketika naik. Kalau perjalanan menanjak, yang aku rasakan jantung berdetak sangat cepat dan kepala terasa pening . Kami sampai di alun-alun Suryakencana sekitar pukul 09.45 wib. 45 menit perjalanan turun ke alun-alun ini tanpa istirahat. 

Di alun-alun ini, mang Dadang melakukan ritual tepatnya di sebuah batu bernama Dongdang (maaf kalo salah, soalnya agak lupa). Batu ini dipercaya sebagi tempat petilasan Raden Suryakencana sekaligus sebagai penguasa pegunungan ini. Jadi orang yang memasuki daerah ini harus meminta restu/izin terlebih dahulu seperti yang dilakukan mang Dayat ini. 

Mang dayat bercerita tentang kekuatan batu ini. Bahwa pernah ada sekelompok orang Mapala dari Jakarta yang menggulingkan batu besar ini. Setelah batu ini terguling ke bawah, keesokan harinya secara ajaib berada di tempat semula. Saya bertanya dalam hati, harus berapa orang agar bisa memindahkan atau setidaknya menggeser batu sangat besar ini. Mungkin harus ratusan orang. Saya ragu dengan cerita mang Dadang ini. Tapi saya hanya tersenyum menanggapinya. 

Ritual ini diawali dengan membaca Al-fatiha dilanjutkan shalawat dan do’a. setelah itu mang Dayat merentangkan kedua tangannya seperti hendak memeluk batu tersebut lalu menciumi batu besar yang sudah di coret-coret tulisan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Saya hanya memandanginya, sedang abang saya mulai menyiapkan kompor untuk membuat kopi. 

Jam 10.45 wib, kami mulai berjalan turun. Saya berjalan dengan perasaan puas. Sampai di pos GPO sekitar jam 13.00 wib. Kami beristirahat. Hujan turun cukup lebat, kami pun tertidur. Hujan reda sekitar jam 15.00 wib, kami pergi ke rumah mang Dayat, makan di warungnya.

Setelah itu kami menggunakan jasa ojeg menuju ke Pasar Cipanas. Dari Cipanas, kami ke Bogor menggunakan Minibus warna Putih sama seperti waktu kami ke sini dari Bogor. Kali ini biaya ongkosnya Rp. 8.000,-. Berbeda waktu dari Bogor- Cibodas, kami membayar Rp. 12.000,- karena dihitung sampai ke Cianjur sebagai tujuan terakhir mobil ini.  

Kami tertidur di mobil. Sampai di Bogor kami gelagapan. Kami pun turun dan melangkah menuju Terminal dan mencari bus yang ke Bekasi. Bus sudah penuh, awalnya saya menolak, tapi abang saya memaksa dengan alasan bus berikutnya harus nunggu lama lagi. Aku pun terpaksa mengalah meski harus berdiri berdesak-desakan. Nggak apalah, lagian banyak ceweknya. Uh dasar naluri lelaki.  

Sampai di rumah sekitar jam 19.30 wib.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.