Pulang

Dan aku pulang

Disuatu malam yang biasa

Ketika bulan sibakkan kelam

Hadirkan langit yang rupawan

Aku tertegun

Merindukanmu

Pada renyah senyummu

*untukmu dikerudung rindu yang menantiku

Ku kirim lewat sms, dia membalas,,

Menanti suami tercinta… muach

11 maret 2009

Aku hendak telanjang bersetubuh

Aku hendak telanjang bersetubuh

Mengandung benihmu

Melahirkan teriakan malam tak bersuara

Melahirkan Jeritan jalan si anak sial

Melahirkan Nyanyian beku si pengamen miskin

Melahirkan rintihan pengemis tua dan kaisan pencari sampah

Aku tambah resah dikubang waktu menjarah

Rumah merah tertawakanku semakin gelisah

Malamku lemah pulang dan menyerah

Aku hendak meminang

Menimangmu, menjamumu, melayanimu

Dengan tanganku, mataku, pikiranku, keringatku, segenap jiwa ragaku

Tunjuk!, mana jalan kapan waktu

Aku hidup dalam nafasku

Melukisi takdirku

Menorehkan namaku dengan darah

Di langit itu sampai runtuh terbelah

Atau di bumi ini sampai pecah berbuncah-buncah

Mungkin juga di laut sana sampai muntah menjamah bagai raksasa air bah

Jalanan, 12 November 2008

SEORANG ”SYEKH” MENIKAHI ANAK INGUSAN

Berita memalukan –bahkan menjijikan bagi sebagian orang- datang dari Semarang. Seorang laki-laki 43 tahun yang menobatkan dirinya seorang ”Syekh”, menikah dengan seorang anak ingusan. Tak ayal membuat geram berbagai pihak. Seperti Majelis Ulama, Pembela hak perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dan komunitas masyarakat berakal waras.

Inilah DR HM Pujiono Cahyo Widianto, atau yang lebih dikenal Syekh Puji. Gembong kaligrafi kuningan ini memang bisa berbuat segalanya. Termasuk hasrat untuk -”kelainan seks” yang lebih menyukai anak-anak dibawah umur- menikahi perempuan dibawah umur alias masih bau kencur.

Korbannya adalah Lutfiana Ulfa. Gadis berumur 11 tahun ini –menurut pengakuan syekh- dinikahi pada bulan Agustus tahun ini. Menurut penuturan Ayahnya –Suroso- saat dikonfirmasi, kini anaknya sudah hidup bahagia, jadi tidak usah dipermasalahkan.

Pengusaha sukses yang mengawali usahanya dengan tirakat ini selalu melakukan hal yang sensasional. Kekayaannya yang melimpah ruah bisa diukur dari besarnya zakat yang baru saja dikeluarkan yaitu sebesar 1,3 Miliyar.

Kelakuan nyeleneh pengasuh pondok pesantren Miftahul Jannah tidak berhenti sampai disini, bahkan lebih gila lagi untuk menggenapkannya menjadi empat, tahun ini dia berniat untuk menikahi lagi dengan anak kecil berumur 9 tahun.

Syekh berwajah kusam dengan jenggot yang berantakan ini berasalan apa yang dilakukan sesuai dengan aturan Agama. Seperti Nabi Muhammad menikahi Aisyah yang kala itu masih berumur 7 tahun.

KENCANGKAN IKAT PINGGANG

Tidak terasa, dua puluh hari sudah, kita berpuasa. Menempa diri mengabdi pada Allah, menjalankan perintahnya, menahan nafsu manusiawi semata-mata karena Allah Ta’ala. Bekerja keras beribadah semaksimal mungkin untuk merengkuh Rahmat-Nya yang sangat dekat, yaitu pada 10 hari pertama. Memohon dengan sangat, segala ampunan-Nya yang Allah buka lebar-lebar, yaitu sepuluh hari kedua. Dan kini, fase ketiga, sepuluh hari terakhir, Allah tutup rapat-rapat, dan Allah jauhkan sejauh-jauhnya Api neraka terhadap kita.

Di sepuluh hari terakhir, Nabi kita, Muhammad Saw, sangat menganjurkan kita untuk beri’tikaf di Masjid. Mengencangkan ikat pinggang, total beribadah, seakan tidak rela bulan yang sangat mulia ini meninggalkan kita dengan sia-sia. Mengintensifkan ibadah-ibadah maghdoh seperti membaca Al-qur’an, sholat wajib berjamaah, shalat sunnat rawatib dan shalat sunnat lainnya, berzikir kepada Allah (bertashbih, tahmid, takbir, tahlil, bershalawat kepada Nabi, dan lain sebagainya.

I’tikaf

Secara bahasa, I’tikaf berarti mendiami suatu tempat. Para ulama meng-istilahkan I’tikaf adalah mendiami Masjid dalam rangka bertaqarrub kepada Allah Swt.

Hukum I’tikaf akan menjadi sunnah Mu’aqadah pada sepuluh hari terakhir bulan puasa. Sunnat yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Oleh karena I’tikaf termasuk ibadah, maka ada rukun-rukunnya, yaitu :

1. Niat

Secara lafadz, niat I’tikaf, “Nawaitu al-I’tikaf Fi Hadza al-Masjidi Sunnat al-Lillahi Ta’ala (Saya niat beri’tikaf di masjid ini sunnat karena Allah Ta’ala)”

Namun saudaraku, inti dari niat itu ada di hati. Saya I’tikaf. Cukup.

2. Mendiami Masjid

Berada di dalam Masjid, berdiam diri di Masjid, dengan melakukan ibadah-ibadah kepada Allah Swt.

Bisa jadi ada orang yang berada di Masjid, tapi tidak di posisi biasa untuk ibadah/shalat, seperti di teras. Atau bisa jadi orang itu berada di dalam Masjid, dengan posisi berada pada tempat biasa untuk ibadah/shalat, tapi orang tersebut tidak melakukan ibadah, misalkan sebatas tidur saja. Hal ini bukanlah I’tikaf.

3. Tujuan berI’tikaf

Ke Masjid memang tujuannya untuk berI’tikaf. Tidak untuk yang lain. Karena boleh jadi pergi ke Masjid tujuannya justru untuk berbuat jahat, seperti mencuri.

4. Berada di Masjid

Berada di bangunan yang dimaksudkan menjadi sebuah Masjid. Jika orang berdiam diri melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala tapi berada di sebuah aula, bukan termasuk I’tikaf.

I’tikaf adalah upaya semaksimal mungkin seorang hamba beribadah kepada Allah Sang Kholiq-nya, bertaqarrub, bermuhasabah, dalam rangka mencari keridhaan Allah Ta’ala. Kesempatan yang sesungguhnya hanya datang sekali saja pada kita. Bulan yang sangat baik diantara bulan-bulan yang lainnya. Kesempatan terakhir, yang jika kita mengabaikannya, maka penyesalan seumur sisa hidup kita.

Juga di sepuluh hari terakhir, menurut riwayat yang kuat, ada satu malam yang sangat istimewa keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Adalah Lailatul Qadar, suatu malam yang Firman Allah Ta’ala, Al-Qur’an Karim, diturunkan. Maka, I’tikaf juga adalah upaya untuk merengkuh malam dimana para Mala’ikat Allah Ta’ala turun, dengan mengucapkan Salaaaam, sampai fajar menyingsing, hiya hatta mathla ‘1l fajr.

Semoga rangkaian Ramadhan, akan menempa kita menjadi manusia yang bertaqwa. Sebagaimana tujuan Allah Ta’ala mewajibkan ibadah ini sebulan penuh. La’allakum Tattakuun.

Hingga pada akhirnya, kita membuktikan kemenangan melawan hawa nafsu, yaitu kembali ke fitrah. Menjadi manusia yang suci hingga cinta menjemput kita, atau sampai Ramadhan berikutnya.

Wallahu a’lam bishshowab.

Bekasi, 20 Sept 2008 M / 20 Ramadhan 1429 H

RITUAL TAK TERPELAJAR

Setiap tahun pasti ada, sejalan dengan datangnya tahun itu sendiri. Terjadi dan cenderung anarki. Bergerombol, arak-arakan, coret-coret baju dan coret apapun yang bisa, berteriak-teriak, dan segala macam ekspresi kebebasan yang kebablasan. Sebuah ritual yang tak terpelajar bagi para pelajar. Mereka lebih tepatnya seperti segerombolan penjahat yang telah terbebas dari jeruji tahanan. Terhempas dari masa-masa yang setiap detiknya begitu mencekam dan menakutkan. Sekolah baginya adalah penjara. Pelajaran baginya adalah agenda penyiksaan. Dan guru baginya adalah sipir berkumis tebal, berdada bidang, tinggi menjulang, dan bermata seperti hendak keluar. Bengis dan kejam.

Kini mereka lulus atau lebih tepatnya bebas. Mereka merasa berhak merayakannya sesuka hati meski merampas hak orang lain. Remaja usia belasan tahun ini tidak akan canggung melakukan kekerasan. Tidak segan-segan melukai siapa saja yang menghalanginya. Tidak lagi punya budaya malu dengan menenggak minuman keras di jalan-jalan. Merokok layaknya preman jalanan. Persis seperti penjahat berdarah dingin yang memamerkan kekejamannya.

Hampir di seluruh nusantara, para pelajar kita mempunyai ritual sama seperti itu. Dari sabang sampai merauke. Dari tanah abang sampai muara angke. Entah siapa yang memulai, yang pasti ini adalah ritual tahuan para pelajar sebuah bangsa, Bangsa Indonesia.

Ini adalah cerminan budaya pendidikan yang kurang baik. Pendidikan yang memandang nilai ujian tertulis yang tinggi adalah segala-galanya prestasi. Lalu pemerintah menaikkan standar kelulusan. Alih-alih mencerdaskan justru para pelajar menjadi semakin tertekan. Sekolah tidak ubahnya sebuah belenggu. Sekolah tak lain adalah tempat menakutkan yang mau tidak mau harus memasukinya.

Memang, tidak semua pelajar melakukan hal yang bodoh ini. Banyak pula yang berpendapat, aksi corat-coret adalah sia-sia dan tak terpelajar. Mereka -yang pelajar sesungguhnya- mengekspresikan kelulusan dengan melakukan sujud syukur kepada Allah SWT. Berterima kasih kepada siapa saja yang telah berjasa terutama kedua orang tua dan para guru. Mereka terus belajar untuk menyiapkan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Bagi mereka lulus SMU adalah awal meniti cita-cita hidupnya. Mau jadi apakah ia nantinya. Dokter, Guru, Insinyur, atau apapun tergantung kegigihan mereka sendiri.

Seharusnya pemerintah tidak memandang sebelah mata masalah ini. Menganggapnya sebagai ekspresi yang wajar. Budaya tak berguna ini seharusnya dihentikan. Jangan sampai terus berlangsung ke generasi selanjutnya. Negara dengan aparat kepolisiannya jika tegas, keras, dan serius menghapus ritual ini, maka saya yakin masalah ini akan cepat selesai. Tidak menjalar ke generasi selanjutnya.

Semoga kita semua menyadarinya.

Bekasi, 16 Juni 2008

Negara Israel Sebuah Tragedi

Ketegasan sikapnya menolak Zionisme tampak jelas dari salah satu prinsipnya. “Saya tidak pernah mau ke Israel. Saya juga tidak mau ke Palestina selama masih menjadi bagian Israel.”

Dialah Rabbi Ahron Cohen, salah seorang juru bicara Neturei Karta, sebuah kelompok Yahudi ortodoks yang dibentuk pada 1935. Organisasi ini menolak Zionisme dan ingin negara Israel dibubarkan. Komunitas ini sekarang ada di sekitar Yerusalem, London, New York, dan Amerika Utara.

Rabbi Cohen ke Jakarta untuk menghadiri konferensi bertajuk “60 Tahun Penjajahan Palestina” di Universitas Indonesia. Berikut petikan wawancara Faisal Assegaf dari Tempo dengan lelaki yang menolak menyebutkan umur dan jumlah anaknya ini:

Kenapa Anda menolak Zionisme?
Yudaisme dan Zionisme adalah dua hal berbeda. Yudaisme ialah sebuah agama dan cara hidup yang sudah ada selama 3.500 tahun. Salah satu filosofi dari ajaran kami adalah segalanya dikontrol oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Kami harus menerima perintah-perintah Tuhan. Salah satu perintah-Nya ialah kami telah diberikan tanah suci Palestina untuk hidup, namun dengan syarat-syarat tertentu. Kami harus memelihara standar etika, moral, dan agama. Jika kami tidak mau, maka kami harus bersedia mengasingkan diri. Sayangnya, standar-standar itu tidak dipelihara. Sejarah menunjukkan selama dua ribu tahun bangsa Yahudi menyebar ke seluruh dunia. Ajaran kami melarang kami membangun sebuah negara.

Sedangkan Zionisme adalah sebuah konsep baru yang muncul beberapa ratus tahun lalu dan dibuat oleh orang-orang Yahudi sekuler yang mengadopsi gagasan nasionalisme. Ini sangat bertentangan dengan pendekatan ajaran Yudaisme. Zionisme memiliki ide mendirikan sebuah negara di Palestina meski mereka tahu sudah ada penduduk asli di sana. Mereka dengan sengaja mengusir orang-orang Palestina. Sebenarnya, juga telah ada warga Yahudi yang tinggal di sana sebelum gerakan Zionis timbul. Mereka hidup berdampingan secara damai dengan orang Palestina. Kami secara total menolak gagasan Zionisme.
Kenapa Zionisme lebih menarik bagi orang Yahudi?
Ketika gerakan Zionisme pertama kali muncul, hampir seratus persen orang Yahudi dan otoritas agama menolak Zionisme. Tapi, setelah Perang Dunia Kedua berakhir, timbul persoalan banyaknya pengungsi. Zionis menggunakan isu itu untuk menarik para pengungsi untuk tinggal di Palestina. Ketika negara Israel berdiri pada 1948, para pengungsi menjadi tertarik dan terkesan akan ide nasionalisme. Bahkan beberapa pemuka agama Yahudi juga tertarik.
Apakah memang benar ada konsep tanah yang dijanjikan Tuhan bagi bangsa Yahudi?
Benar, hanya berdasarkan syarat yang sudah saya sebutkan tadi. Itu ada di dalam Taurat.
Di mana letak tanah yang dijanjikan itu?
Tanah suci Palestina, tapi itu tidak berlaku sekarang. Kami sekarang ditakdirkan untuk mengasingkan diri.
Sekarang Zionis makin berkuasa. Menurut Anda Yudaisme telah gagal membendung pengaruh gerakan itu?
Zionis telah berhasil memikat banyak orang. Untuk mengatakan kami sudah gagal seolah kami sedang menghadapi ujian moral. Yang dapat kami katakan adalah banyak orang Yahudi gagal hidup berdasarkan standar yang baik lantaran mereka menerima Zionisme. Kami para Yahudi ortodoks terus mengajarkan ajaran-ajaran Yudaisme dan kami sangat tidak bersimpati dengan negara Zionis.
Anda merasa malu karena agama Anda sudah dieksploitasi untuk menjajah bangsa lain?
Tentu saja. Anda percaya orang-orang Zionis yang tidak percaya kepada Tuhan tapi mengatakan Tuhan telah memberikan kami tanah yang dijanjikan (seraya tertawa). Ini sangat berlawanan. Beberapa ajaran kami telah disalahartikan dan dieksploitasi.
Apa gagasan Anda untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel?
Idealnya, satu negara bisa dibentuk dengan menghentikan segala kekerasan. Setelah itu, orang-orang Yahudi harus membiarkan orang-orang Palestina mendirikan negara dan membentuk pemerintahan. Jika orang Yahudi dibolehkan tinggal di sana, itu bagus. Bila tidak, kami harus keluar mencari tempat tinggal lain.
Mana yang lebih baik, solusi satu atau dua negara?
Lebih baik satu negara.
Apakah itu mungkin?
Untuk saat ini, itu seperti mimpi. Yang harus diupayakan lebih dulu adalah perdamaian final antara kedua pihak. Dalam kepercayaan kami, Israel baru boleh memiliki negara jika Sang Penyelamat datang di akhir zaman.
Bagi Anda, apa arti kemerdekaan Israel ke-60?
Bagi kami, itu sebuah tragedi karena keberhasilan tindakan tak terpuji Zionisme. Tapi, kami tidak akan kalah terhadap kejahatan itu. Bagi kaum Yahudi ortodoks, kemerdekaan Israel adalah sebuah tragedi dan mereka berpuasa pada hari Naqba. Kami harus berpuasa untuk membayar penderitaan rakyat Palestina dan dosa kami.
Jadi, berdirinya negara Israel tidak sah?
Sama sekali tidak sah.
Koran Tempo/Internasional/Jum’at, 16 Mei 2008

Akhwat Itu…

Akhwat dalam bahasa Arab berarti saudara perempuan. Lawan kata dari Ikhwan yang mempunyai makna saudara laki-laki. Akhwat dalam tulisan ini saya sempitkan maknanya menjadi kaum perempuan yang tergabung dalam Organisasi/Jama’ah Harakah Tarbiyah.

Seorang Akhwat gampang dikenali. Karena cara berpakaiannya yang sangat kontras dengan para kaum hawa ammah yang memakai pakaian tipe minimalis. Akhwat pun mudah dibedakan dengan para perempuan yang menggunakan jilbab tapi ketat melekat meliuk-liuk menelusuri lekuk tubuhnya, atau dalam bahasa kerennya jilbab gaul.

Physically jelas akhwat adalah perempuan, berkerudung lebar dan panjang. Memakai celana yang dibungkus lagi dengan gamis, pake kaos kaki, dan entah apalagi. Pokoknya tubuh mereka tertutup rapat. Dijamin tidak mengundang syahwat. Non fisiknya mereka kaum perempuan yang istiqomah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya secara Kafa’ah (Insya Allah).

“Iiiih, repot banget sih.” Protes saudara sepupu saya yang berjenis kelamin perempuan yang masih duduk di bangku SMP.

“Memang begitu menurut aturan Islam”. Jawab saya mencoba memahfumkan dia.

“Nggak keren tau”. Sanggah dia.

“Lho, justru itu yang paling keren”. Bantah saya, “Coba kamu pikirin, kerenan mana, antara buku yang sudah terbuka terkoyak-koyak bungkusnya maaf dijamah oleh beberapa tangan, dengan buku yang masih terbungkus rapih, dijamin keasliannya dan diletakkan ditempat yang khusus pula?”

Dia terdiam sejenak, mungkin dalam rangka berfikir melogiskan pernyataan saya.

“Trus kalo mo lari gimana, apa nggak ribet.” Telisiknya kemudian, mengalihkan ke pembicaraan yang tidak penting.

“Eit, jangan salah… biar kata pakaian Akhwat itu buuanyak, mereka-mereka itu gesit dan trengginas.”

“Masa seee..” kata sepupuku lagi, masih meragukan argumentasi saya.

“Akhwat fillah tunjukan pada dunia bahwa pakaianmu bukanlah penghalang setiap aktivitasmu”. Harapku dalam hati

Mantan Akhwat

Iman yang tertanam dalam dada setiap Muslim itu seperti laut yang selalu mengalami pasang dan surut. Iman akan naik kalau melakukan ibadah dengan khusyuk, sebaliknya akan surut jika bermaksiat. Itulah yang telah disabdakan Nabi saya Muhammad.

Menjadi seorang akhwat dengan jilbab lebarnya memerlukan komitmen yang kuat karena sangat bertentangan dengan standarisasi dunia fashion internasional yang semakin diamini saja oleh generasi muda kita. Dan bertentangan 180 derajat dengan para kaum nudis ataupun kaum naturisme.

Jika tidak komitmen dan istiqomah, maka yang terjadi adalah…

“Mantan Akhwat??? Iiiih, mudah-mudahan jangan sampe deeeh… naudzubillahi mindzalik.” Teriak lirih istri saya saat saya menyebut mantan akhwat.

“Emangnya ada mantan Akhwat?”. Kata istriku masih mempertanyakan.

Ya adalah, namanya juga manusia. Lihat saja cerita Rista. Dia dulu adalah seorang akhwat tulen len len len. Sewaktu masih tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bekasi, dia sangat aktif dalam mengikuti setiap kegiatan kerohaniahan. Sangat sering pulang malam-malam karena agenda yang padat di kampus. Tapi setelah menikah dengan seorang laki-laki tawaran orang tuanya, dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta, perisai akhwat yang melekat pelan-pelan ia lepaskan.

“Dulu saya akhwat”. Akunya bangga.

“……..???”. Ekspresi saya masih datar mendengar pengakuannya

“Memakai jilbab lebar pake kaos kaki pake bla bla bla”. Dia melanjutkan, “Tapi sekarang nggak lah, repot.”

Saya mencuatkan alis sebagai tanda masih meragukan. Rista mengerti bahasa tubuh yang saya pamerkan, makanya dia mengangguk mantap mencoba menyakinkanku lagi.

“Akhwat bukan akhwat itu nggak penting. Yang penting masih shalat. Ya nggakk??”. Rista berargumen dan minta persetujuan saya.

Saya tersenyum datar mencoba memahami.

Seva_Jak270508

Aku & Anak Kecil

Aku masih tak percaya pada tulisan yang terpahat di atas pintu depan rumahku. Pernik warna-warni menghiasi dinding dan jendela kayu. Baru saja aku melihat anak kecil itu menangis tersedu-sedu merengek meminta sesuatu yang janggal buat ibunya. Ia ingin mencoba menjadi dewasa. Di mata ibunya dia hanyalah anak kemarin sore atau kadang lebih ekstrim lagi, sang ibu menyebutnya bayi abang1). Katanya belum cukup umur. Sama sekali belum pantas untuk membangun gubuk sebenarnya di tengah terik matahari siang bolong.

“Untuk kamu dua atau tiga tahun lagi”. Tanggap Emak dingin saat kusodorkan lembar-lembar keinginanku.
Sontak aku jawab, “Tidak bisa!. Harus secepatnya mumpung hari belum beranjak siang. Sebelum matahari tenggelam. Sebelum malam menebar tirai kelam.

“Lalu bagaimana dengan kuliah dan pekerjaanmu?. Emak takut berserakan akhirnya”.

Secepatnya ku tepis logika yang lama membelenggu beliau dan kebanyakan dari mereka-mereka penikmat dunia. Cinta remaja yang terlewat sekat dianggap biasa. Mereka dibutakan oleh modernisasi budaya. Yang suci justru mampu memicingkan mata mereka. Aneh.

Kuhancurkan pelan-pelan ketakutan yang berasal dari pandangan dunia semata. Keraguan yang dihembuskan oleh si nyata-nyata menjadi musuh manusia sejak pertama tercipta. Karena takut celah yang terbuka lebar guna menebar rayuannya akan tertutup. Mereka -para musuh- akan menangis kalah, jika akhirnya kuraih kesucian dan kemuliaan ini. Akhiratlah tujuan hidupku. Itulah tekadku.

Baca selebihnya »